Saya termasuk orang yang gampang bosan kalau menghadiri forum diskusi. Biasanya saya duduk agak ke belakang, lalu diam-diam menghitung berapa menit lagi sesi tanya jawab dibuka supaya bisa segera pulang. Tapi forum yang saya datangi beberapa waktu lalu terasa lain. Bukan karena ada makan gratis, melainkan karena temanya satu kata yang tidak pernah absen dari obrolan Masisir, pembeludakan.
Angkanya memang bikin melongo kalau baru pertama dengar. Tahun 2022 saja, jumlah Mahasiswa Indonesia di Mesir sudah di kisaran 10.000 orang. Tahun ini KBRI justru menyebut angkanya sudah sekitar 20.000. Dua kali lipat dalam empat tahun.
Reaksi umumnya sudah bisa ditebak. Pembeludakan dibaca sebagai bencana. Sebagian orang menyalahkannnya sebagai sebab menurunnya kualitas Masisir, sebagian lain menariknya jauh sampai ke urusan moral.
Dari forum itu muncul satu pertanyaan yang belum sempat dijawab tuntas sampai acara bubar. Apakah pembeludakan memang cuma layak dibaca sebagai hal buruk?
Saya justru berpikir sebaliknya. Lonjakan ini berkah. Al-Azhar membuka pintunya lebar-lebar, dan puluhan ribu orang dari Indonesia masih menganggap Kairo layak didatangi untuk belajar agama. Di zaman ketika anak muda punya banyak pilihan lain yang jauh lebih cepat menghasilkan uang, itu bukan hal kecil.
Masalahnya tidak pernah terletak pada jumlahnya. Masalahnya ada pada kesiapan. Dan sejauh yang saya lihat di lapangan, yang belum siap bukan cuma sistemnya, tapi juga kita sendiri.
Semangatnya Sampai Kairo, Urusan Izin Tinggalnya Entah di Mana
Semangat orang Indonesia berbondong-bondong menuntut ilmu ke Mesir itu pantas disyukuri. Al-Azhar memang kiblat bagi penuntut ilmu agama, dan tidak semua orang punya nyali meninggalkan rumah demi duduk di ruang kuliah yang bahasanya bukan bahasa ibunya. Persoalannya, semangat setinggi itu ternyata tidak diikuti oleh hal yang jauh lebih membosankan, mengurus izin tinggal.
Per 31 Maret 2026, laporan teman-teman Intif mencatat 8.039 Masisir sudah memproses iqamah (izin tinggal) sampai tahap foto. Artinya masih ada lebih dari 10.000 orang yang belum memegang izin tinggal.
Intif sendiri memasang target 9.000 iqamah dalam tiga bulan ke depan, dan angka target itu saja sudah terdengar seperti beban kerja yang tidak manusiawi.
Hal yang membuat saya berhenti sejenak justru pernyataan KBRI yang dikutip Kemenlu pada April lalu. Kendala terbesarnya ternyata bukan tumpukan berkas atau lambannya alur administrasi. Kendalanya adalah rendahnya kesadaran dan kemauan Masisir sendiri untuk mengurus iqamah.
Kalimat itu menohok karena jujur. Kita terbiasa memakai frasa “sistemnya kewalahan” sebagai tameng, padahal sebagian kekacauan ini kita produksi sendiri.
Mahasiswa terus berdatangan, sistem megap-megap melayani, lalu sebagian dari kita menunda urusan izin tinggal sampai ada kabar razia.
Padahal iqamah bukan formalitas yang bisa ditawar. Selembar kartu itulah yang membedakan seorang pelajar dari seseorang yang kebetulan sedang berada di Mesir.
Kelas penuh, tapi Jangan Buru-buru Menyalahkan Al-Azhar
Dampak lonjakan ini tidak berhenti di meja imigrasi. Ia terbawa sampai ke ruang kuliah.
Selama kuliah di Al-Azhar, saya beberapa kali melihat pemandangan yang sama di sejumlah fakultas. Mahasiswa berdiri sepanjang jam pelajaran karena tidak kebagian tempat duduk. Bukan karena datang terlambat, tapi karena kursinya memang tidak cukup. Jumlah mahasiswa dan daya tampung ruangan sudah lama tidak berbanding lurus.
Bagi mahasiswa baru yang bahasa Arabnya masih tertatih, berdiri di pojok ruangan sambil berusaha menangkap penjelasan Syekh dari kejauhan bukan pengalaman yang menyenangkan. Kalau kondisi itu berulang setiap pekan, wajar bila semangat masuk kelas ikut menipis. Soal yang kelihatannya sepele seperti ketersediaan kursi bisa berujung pada cara seseorang menjalani kuliahnya.
Pertanyaannya, apakah pantas kita menyalahkan Al-Azhar? Menurut saya tidak. Al-Azhar tidak pernah menagih apa pun dari kita. Ia menerima, menampung, dan tetap membuka pintu meski kelasnya sudah sesak.
Sebagai tamu, kita yang seharusnya lebih peka membaca kondisi tuan rumah. Ada yang janggal ketika kita sama-sama tahu ruang kuliah sudah penuh, tapi tetap saja mendorong sebanyak mungkin orang diberangkatkan ke Negeri Kinanah, lalu ramai-ramai mengeluhkan fasilitas begitu tiba di sini.
Membatasi Kuota Itu Solusi Paling Malas
Setiap kali isu ini naik ke permukaan, usulan yang paling cepat muncul selalu sama, Batasi kuota calon mahasiswa baru. Kedengarannya tegas, terukur, dan enak dijadikan kutipan. Tapi memotong angka bukan berarti memperbaiki jalannya.
Ada persoalan yang jauh lebih mendesak, yaitu jalur pemberangkatan yang tidak terkendali akibat peran mediator tidak resmi. Selama pintu samping masih terbuka, berapa pun kuota resmi yang ditetapkan, akan selalu ada rombongan yang tiba lewat jalan lain dengan bekal janji-janji yang tidak pernah ditepati. Mereka inilah yang paling rentan telantar begitu mendarat.
Jadi yang perlu diperketat itu jalurnya, bukan jumlahnya. Pihak yang memiliki wewenang harus berani menutup jalur ilegal dan memastikan seluruh proses pemberangkatan berjalan lewat jalur resmi yang bisa dilacak dan dimintai tanggung jawab.
Membatasi kuota tanpa menyentuh mediator gelap cuma memindahkan antrean, dari loket resmi ke pasar gelap.
Berpikir pendek soal kuota itu mudah. Menyentuh akar masalahnya yang sulit, sebab mungkin ruang birokrasi kita terlalu kompleks untuk menyelamatkan orang-orang yang selama ini hidup dari ketidakjelasan, dan mencegah korban selanjutnya.
Tuan Rumahnya Sudah Baik, Tamunya yang Belum Dewasa
Pada akhirnya harapan saya sederhana, mungkin terdengar polos. Saya ingin semua mahasiswa Indonesia yang sudah menempuh jarak sejauh ini benar-benar sampai ke bangku kuliah. Punya kepastian status sebagai mahasiswa, bisa belajar dengan tenang, dan tidak berakhir telantar di kota yang tidak mengenal mereka.
Al-Azhar sudah menjalankan perannya sebagai tuan rumah dengan sangat baik. Pintunya dibuka, kursinya diisi sampai penuh, dan sejauh ini kita masih terus disambut.
Sekarang giliran kita menjawab pertanyaan yang jauh lebih tidak enak didengar. Sebagai tamu, sudah cukup dewasakah kita?






