Al-AzharArtikelFeature

Satu-satunya dari Indonesia, Neal Coutsar Tembus 10 Besar Mahasiswa Terbaik Syu’bah Dakwah Tingkat Tiga di Al-Azhar

Penulis: AdminKKSMesir
Penulis: Hafid Akbar At-Thariq | Editor: Muh. Alwi Agung

Universitas Al-Azhar adalah salah satu institusi pendidikan Islam tertua, terbesar, dan paling prestisius di dunia, yang selama lebih dari seribu tahun berdiri kokoh di jantung Kairo, Mesir. Menjadi kiblat keilmuan Islam, universitas ini laksana samudra ilmu yang mempertemukan jutaan penuntut ilmu dari berbagai belahan bumi, tak terkecuali ribuan mahasiswa asal Indonesia yang datang menyeberangi lautan demi mereguk sanad keilmuan yang autentik. Namun, di tengah hamparan rumpun ilmu yang begitu luas di universitas legendaris ini, sebuah pola klasik sering kali terbentuk dalam dinamika kehidupan mahasiswanya.

Di Universitas Al-Azhar, pilihan mahasiswa Indonesia terhadap konsentrasi studi kerap terkonsentrasi pada bidang-bidang yang telah lama dikenal dan banyak diminati, seperti Hukum Islam, Akidah Filsafat, Tafsir, dan Hadis. Tak banyak mahasiswa Indonesia di Universitas Al-Azhar yang menjatuhkan pilihan pada Syu’bah Dakwah Fakultas Ushuluddin. Dibandingkan konsentrasi lain, jurusan ini memang terbilang sepi peminat.

Namun, di balik minimnya peminat itu, seorang mahasiswa Indonesia justru berhasil mencatatkan prestasi yang membanggakan. Ia masuk dalam jajaran sepuluh mahasiswa dengan nilai terbaik di tingkat tiga Fakultas Ushuluddin Jurusan Dakwah, membuktikan bahwa pilihan yang tak banyak dilirik pun dapat mengantarkan seseorang pada pencapaian yang tinggi.

Mahasiswa itu adalah Neal Coutsar, kerap disapa Neal. Pemuda asal Indonesia yang menempuh studi di jurusan Dakwah Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar ini berhasil menorehkan prestasi gemilang dengan masuk dalam jajaran sepuluh mahasiswa berprestasi terbaik tingkat tiga berdasarkan capaian akademik pada tahun ini. Bagi Neal, pencapaian itu merupakan hasil dari proses panjang, sejak ia memantapkan hati memilih jurusan yang tak banyak diminati orang.

Awal yang Tertatih di Jantung Kairo

Capaian itu tidak datang begitu saja membalik telapak tangan. Neal mengaku perjalanan kuliahnya di Al-Azhar tidak selalu berjalan mulus. Di tahun-tahun awal, ia sempat merasa tertatih-tatih mengikuti ritme perkuliahan yang begitu cepat. Bahasa Arab sehari-hari (ammiyah) yang belum sepenuhnya ia kuasai menjadi tantangan besar pertama yang menguji mentalnya. Ditambah lagi, lingkaran pertemanan yang masih terbatas pada masa awal kedatangan membuatnya tidak leluasa untuk berdiskusi mengenai materi kuliah yang berat.

“Alhamdulillah, ini benar-benar sesuatu yang saya syukuri. Kalau melihat ke belakang, perjalanan saya tidak mudah. Awal-awal kuliah sempat tertatih-tatih,” ujarnya mengenang masa-masa sulit itu.

Bagi Neal, pencapaian itu bukan semata hasil kerja keras dan malam-malam tanpa tidur yang ia lalui sendiri. Ia percaya ada untaian doa yang selalu mengiringi setiap langkahnya, mulai dari orang tua, guru, hingga teman-teman yang terus memberikan dukungan tanpa henti. Karena itu, saat namanya resmi masuk dalam daftar sepuluh mahasiswa dengan nilai terbaik, perasaan yang pertama kali membuncah di dadanya bukanlah rasa puas yang jemawa, melainkan rasa terkejut dan syukur yang tak terhingga. Ia menganggap prestasi tersebut sebagai hadiah dari Allah SWT atas proses panjang yang telah dijalani dengan sabar.

Menemukan “Rumah” di Jurusan Sepi Peminat

Pilihan Neal untuk masuk Syu’bah Dakwah pun bukan keputusan yang diambil secara kebetulan atau sekadar ikut-ikutan. Sejak masih berada di tingkat satu, ia mulai jeli mengenali mata kuliah yang paling sesuai dengan minat dan panggilan jiwanya. Ketika mempelajari Ushul Dakwah, ia merasa sangat menikmati setiap jengkal pembahasannya. Perasaan magis yang sama kembali muncul saat ia mengikuti mata kuliah Khitabah di tingkat berikutnya. Dari situlah keyakinannya tumbuh kokoh: Syu’bah Dakwah adalah tempat yang paling sesuai dengan dirinya.

Di saat mayoritas mahasiswa Indonesia memilih jalan dengan mengambil jurusan lain, Neal justru melihat peluang yang berbeda. Baginya, menjadi bagian dari jurusan yang jumlah mahasiswa Indonesianya sedikit justru membuka kesempatan emas untuk keluar dari zona nyaman. Ia dipaksa untuk lebih banyak berinteraksi dengan mahasiswa lokal Mesir maupun dari berbagai belahan dunia lainnya, mengenal budaya baru, sekaligus memperluas jejaring pertemanan internasional.

Keputusan itu sempat membuat sebagian orang di sekitarnya heran dan mengernyitkan dahi. Selama ini, Syu’bah Dakwah sering kali dipandang sebelah mata dan dicap sempit hanya sebagai jurusan yang mencetak dai atau penceramah mimbar saja. Padahal, menurut Neal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.

Di jurusan itu, mahasiswa tidak hanya belajar tentang teknik dakwah semata. Mereka juga membedah kebudayaan Islam, melacak sejarah perkembangan peradaban Islam, mendalami perbandingan agama, hingga menguliti berbagai aliran pemikiran dunia. Keragaman materi yang kaya inilah yang membuat Neal semakin yakin bahwa pilihannya sejak awal sudah sangat tepat.

“Saya tidak pernah menyesal memilih Dakwah. Big no,” katanya mantap sambil tersenyum lebar.

Ritme Sederhana di Balik Nilai Sempurna

Di balik prestasinya yang mentereng, Neal memiliki cara belajar yang sebenarnya sederhana, tetapi menuntut konsistensi tinggi. Jauh sebelum genderang masa ujian bertalu, ia sudah memasang target pribadi agar seluruh materi selesai dipelajari. Sekitar satu setengah hingga dua bulan menjelang ujian, waktunya lebih banyak digunakan untuk melakukan muraja’ah (mengulang materi) agar pemahamannya semakin mengakar kuat.

Selain belajar mandiri di kamar, Neal juga aktif menghidupkan ruang-ruang diskusi bersama teman-temannya. Baginya, kelompok belajar menjadi tempat terbaik untuk saling menambal dan melengkapi pemahaman ketika ada materi yang masih buram. Ia pun mengaku sangat terbantu dengan berbagai program akademik yang diselenggarakan oleh Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin, seperti majelis belajar (Mabar) dan kamus, yang banyak membimbingnya beradaptasi pada masa-masa awal kuliah.

Bagi Neal, setiap mahasiswa memiliki sidik jari dan cara belajarnya masing-masing. Karena itu, ia tidak percaya ada satu metode kaku yang cocok untuk semua orang. Yang terpenting adalah keberanian mengenali diri sendiri, menemukan pola belajar yang paling efektif, lalu menjalaninya dengan disiplin baja. Setelah semua ikhtiar manusiawi dilakukan, sisanya ia pasrahkan penuh kepada sang pemilik ilmu, Allah SWT.

Proses yang Lebih Berharga dari Sekadar Angka

Kini, namanya harum tercatat sebagai satu-satunya mahasiswa Indonesia yang berhasil menembus jajaran sepuluh peraih nilai terbaik di Syu’bah Dakwah tingkat tiga. Ia menaruh harapan besar agar semakin banyak mahasiswa Indonesia di Al-Azhar yang tetap menempatkan belajar sebagai kompas dan tujuan utama, tidak mudah terdistraksi oleh riuh rendah aktivitas di luar perkuliahan, dan terus berusaha menghadirkan prestasi, baik di bidang akademik maupun nonakademik.

Perjalanan seorang Neal Coutsar menjadi pengingat bahwa tidak semua keputusan hidup harus mengekor pada pilihan yang paling ramai dan populer. Di tengah anggapan bahwa Syu’bah Dakwah bukanlah jurusan yang seksi bagi mahasiswa Indonesia, ia justru menemukan ruang subur untuk bertumbuh, mengenali kapasitas kemampuannya, dan mengukir prestasi emas.

Semua itu tidak diraih dalam semalam. Ada harga mahal yang harus dibayar melalui adaptasi bahasa yang melelahkan, keberanian membangun pertemanan baru, perjuangan mengejar ketertinggalan, hingga jam-jam panjang yang dihabiskan bersama tumpukan buku dan ruang diskusi. Pada akhirnya, selembar daftar sepuluh mahasiswa terbaik hanyalah satu bab kecil dari cerita besarnya. Yang jauh lebih berharga adalah proses panjang yang mengantarkannya ke sana: keberanian memilih jalan sunyi yang diyakini, ketekunan untuk bangkit meski sempat tertatih, serta keyakinan mutlak bahwa setiap peluh ikhtiar akan menemukan manis hasilnya pada waktu yang tepat.

Artikel Terkait