Puisisastra

Dari Bumi Berkah Menuju Tapak Keberkahan dan Puisi Lainnya

Penulis: AdminKKSMesir

Puisi yang Hilang

 

Pertama kali merangkai

kubuat puisi itu

bermodal kagum dan mengagungkan

 

Sorak dan tepuk tangan

menggema di langit kemenangan

lalu berakhir menjadi penistaan

 

Semesta berkata,

“jangan takut melepaskan

cukup jadi pelita

di mana pun puisi abadi

akan dihadirkan”

 

Mengisi hari menuntut diam

pena akan terus menari

menulis dalam senyap

menemukan pembaca yang tepat

 

Selamat bertopeng

wajah kebenaran

akan menyingkapnya

hilang dan fana

abadi dan kekal

 

 

 

Dari Bumi Berkah Menuju Tapak Keberkahan

 

Siluet pemikiran anak penjara

akan sadarnya dari fatamorgana

penjara suci mengurung raga

tapi jiwanya mengejar cakrawala

 

Dinding itu seringkali teringkar

hingga menjelma lafaz ikrar

sampai kapan menjadi air mengalir

bermain, bebas lepas tanpa batas

 

Hidayah itu menyeruak membisikkan kalbu

dengan baiat pada Sang Kuasa

meneguk habis tiga puluh surah cinta

jika Sang Kuasa menyapa doanya

 

Tapak demi tapak meniti jalan menuju cahaya

adakah tempat berkah selain bumi Mangkoso

yang masyhur dengan turunnya lailatul qadr?

 

Tiada desir ikhlas yang tak terdengar

takdir-Nya menyatu dengan melangitnya baiat

harapnya dalle’ yang digariskan

dituntun bersama keberkahan

Anregurutta Ambo Dalle

 

 

Sebelum Lilin Padam

 

Suatu tanggal

yang setiap tahun

teringat sebuah perjuangan

penuh harapan dalam angan

 

“Tak perlu meniup lilin,

hari lahir tak perlu dirayakan

itu hanya jejak masa silam”

 

Namun bukankah syukur tak selalu bermakna pesta?

berbagi dengan pemberian-Nya

ucapan selamat dan senyum ketulusan

atau sekadar ingatan dan doa yang disematkan

 

Apakah kau belum cukup berkelana

menyaksikan meja-meja yang kehilangan tawa

peluk yang tak sempat kembali

serta keluarga yang perlahan menjauh

karena terlalu banyak momen dibiarkan berlalu?

 

Tawa yang tertunda,

peluk yang tertahan jarak

aroma manis kue mengumpulkan kembali tawa

segala hubungan kasih kembali menyapa

 

Karena tak ada yang benar-benar tahu

siapa yang dahulu selesai

lilinnya,

harinya,

kebersamaannya,

atau napas yang meniupnya

 

 

Kiswah Unta

 

Udara pagi dalam pejaman

lembaran putih diselami

siang mengarungi medan ujian

 

Bukan kiswah hitam

tapi kain penutup unta

sebanyak itukah buih dosa

sehingga meski tak nyata

melihat rumah-Mu tidak dalam kesempurnaannya

 

Ternyata tidur pagi hari

tak selalu buruk

asal lelah dalam tidur berselimut kebaikan

 

Dengan prasangka baik

semoga simbol menjadi tanda-Nya

unta bumi Kinanah membawaku

mengunjungi rumah dengan rindunya

 

 

Pelukan Nil

 

Langit menggantungkan cemasnya kelopak mata

sementara doa berlayar tanpa tahu muaranya

tak ada tanah yang berlimpah cahaya

tanpa lorong kerikil di setiap ambangnya

 

Mengemasi gentar dalam selembar sabar

beranjak dari cinta yang memaksanya dewasa

hingga ufuk timur memanggil namanya

menuju negeri yang disebut tiap akhir sujudnya

 

“Masuklah kamu ke negeri Mesir,

insya Allah dalam keadaan aman”

sejak saat itu segala ketakutan luruh

seperti jejak pasir di kakian Piramida

 

Riak Nil lebih dulu memeluk langkahnya

sebelum negeri itu menaungi jiwanya

dan hatinya menenggelamkan segala ketakutan

seperti arus yang mengendapkan segala luka

 

Terima kasih, Nil

atas nestapa yang melampaui bentang pelukmu

membuat segala bermuara pada tenang

hingga kata aman bukan sekadar ayat cintanya

melainkan tepian yang memeluk jiwa dan raga

Artikel Terkait