Puisi yang Hilang
Pertama kali merangkai
kubuat puisi itu
bermodal kagum dan mengagungkan
Sorak dan tepuk tangan
menggema di langit kemenangan
lalu berakhir menjadi penistaan
Semesta berkata,
“jangan takut melepaskan
cukup jadi pelita
di mana pun puisi abadi
akan dihadirkan”
Mengisi hari menuntut diam
pena akan terus menari
menulis dalam senyap
menemukan pembaca yang tepat
Selamat bertopeng
wajah kebenaran
akan menyingkapnya
hilang dan fana
abadi dan kekal
Dari Bumi Berkah Menuju Tapak Keberkahan
Siluet pemikiran anak penjara
akan sadarnya dari fatamorgana
penjara suci mengurung raga
tapi jiwanya mengejar cakrawala
Dinding itu seringkali teringkar
hingga menjelma lafaz ikrar
sampai kapan menjadi air mengalir
bermain, bebas lepas tanpa batas
Hidayah itu menyeruak membisikkan kalbu
dengan baiat pada Sang Kuasa
meneguk habis tiga puluh surah cinta
jika Sang Kuasa menyapa doanya
Tapak demi tapak meniti jalan menuju cahaya
adakah tempat berkah selain bumi Mangkoso
yang masyhur dengan turunnya lailatul qadr?
Tiada desir ikhlas yang tak terdengar
takdir-Nya menyatu dengan melangitnya baiat
harapnya dalle’ yang digariskan
dituntun bersama keberkahan
Anregurutta Ambo Dalle
Sebelum Lilin Padam
Suatu tanggal
yang setiap tahun
teringat sebuah perjuangan
penuh harapan dalam angan
“Tak perlu meniup lilin,
hari lahir tak perlu dirayakan
itu hanya jejak masa silam”
Namun bukankah syukur tak selalu bermakna pesta?
berbagi dengan pemberian-Nya
ucapan selamat dan senyum ketulusan
atau sekadar ingatan dan doa yang disematkan
Apakah kau belum cukup berkelana
menyaksikan meja-meja yang kehilangan tawa
peluk yang tak sempat kembali
serta keluarga yang perlahan menjauh
karena terlalu banyak momen dibiarkan berlalu?
Tawa yang tertunda,
peluk yang tertahan jarak
aroma manis kue mengumpulkan kembali tawa
segala hubungan kasih kembali menyapa
Karena tak ada yang benar-benar tahu
siapa yang dahulu selesai
lilinnya,
harinya,
kebersamaannya,
atau napas yang meniupnya
Kiswah Unta
Udara pagi dalam pejaman
lembaran putih diselami
siang mengarungi medan ujian
Bukan kiswah hitam
tapi kain penutup unta
sebanyak itukah buih dosa
sehingga meski tak nyata
melihat rumah-Mu tidak dalam kesempurnaannya
Ternyata tidur pagi hari
tak selalu buruk
asal lelah dalam tidur berselimut kebaikan
Dengan prasangka baik
semoga simbol menjadi tanda-Nya
unta bumi Kinanah membawaku
mengunjungi rumah dengan rindunya
Pelukan Nil
Langit menggantungkan cemasnya kelopak mata
sementara doa berlayar tanpa tahu muaranya
tak ada tanah yang berlimpah cahaya
tanpa lorong kerikil di setiap ambangnya
Mengemasi gentar dalam selembar sabar
beranjak dari cinta yang memaksanya dewasa
hingga ufuk timur memanggil namanya
menuju negeri yang disebut tiap akhir sujudnya
“Masuklah kamu ke negeri Mesir,
insya Allah dalam keadaan aman”
sejak saat itu segala ketakutan luruh
seperti jejak pasir di kakian Piramida
Riak Nil lebih dulu memeluk langkahnya
sebelum negeri itu menaungi jiwanya
dan hatinya menenggelamkan segala ketakutan
seperti arus yang mengendapkan segala luka
Terima kasih, Nil
atas nestapa yang melampaui bentang pelukmu
membuat segala bermuara pada tenang
hingga kata aman bukan sekadar ayat cintanya
melainkan tepian yang memeluk jiwa dan raga






