Cerpen

Aku Hanya Seorang Tukang Tausil

Penulis: AdminKKSMesir
Penulis: Sajid dzaky Mubarak | Editor: Muh. Ichsan Semma

Ketel itu mengeluarkan desis uap air, menggetarkan seluruh bagian tubuhnya kecuali gagangnya yang memang sudah terlepas sebelumnya. Sudah hampir sepuluh menit ia menjerit, meminta tolong kepada siapapun untuk mengangkatnya dari panas api yang membakar pantatnya hingga mulai gosong dan menghitam. Di sampingnya, ada bungkus mie instan, juga beberapa cangkang telur yang ikut menemaninya.

Jeritan itu kemudian mengundang datangnya seorang pria dari dalam kamar, yang akhirnya memutar knop kompor untuk mengakhiri penderitaan si ketel. Butuh usaha lebih untuk melakukannya, karena beberapa kali tangannya tergelincir karena minyak yang menutupi knop dan seluruh lapisan kompor yang membuat warnanya kekuningan. Ia kemudian meraih kain lap di samping kompor dan mulai menutupi seluruh tubuh ketel dengan kain itu. Meskipun sebagian tubuhnya agak tersingkap karena kain yang ia gunakan ternyata berlubang, entah tikus mana yang menggerogotinya.

Ia kemudian mengambil toples plastik berisi kopi hitam bubuk yang hampir kosong, membukanya, lalu berusaha mengumpulkan sisa-sisa butiran hitam yang menempel di dinding dan dasar toples, menuangkan ke gelas, kemudian menyeduhnya.

Ia mengaduknya perlahan dengan tatapan agak kosong dan raut wajah yang datar, seolah sedang fokus dalam suatu peperangan yang tak terlihat. Setelah ritual penyeduhan kopi itu, ia lekas kembali ke kamarnya tanpa menambahkan sesendok gula sebagai bumbu penambah nikmat.

Membawa kopi hitam tanpa gula tersebut ia berjalan menuju kamarnya, lalu duduk di depan laptop sambil menyeruput.

“akhhh, hambar seperti biasa,” ucapnya dengan nada bercanda yang kemudian berbisik ”ah, tidak lucu”.

Sambil menikmati kopi yang ia buat, matanya fokus menatap layar laptop penuh debu dan sedikit noda cokelat yang menempel, sepertinya karena tumpahan kopi yang tidak sempat ia bersihkan sebelumnya. Terlihat di sana, lembaran putih Microsoft Word yang mengisi setengah layarnya, menunggu untuk diisi. Di setengah layar lainnya, terlihat juga pamflet pendaftaran beasiswa berwarna hijau.

Dua sosok pelajar dengan kopiah hitam dan dasi terlilit melingkar di lehernya mengisi bagian atas poster hijau itu, berdiri membawa buku dengan senyuman lebar di wajahnya seperti sedang asyik membicarakan suatu hal yang menarik. Terpampang juga di sana timeline acara yang harus dilewati para pendaftar. Di bawahnya, terdapat kolom berkas/dokumen, tertulis pada poin satu, pas foto terbaru, nomor dua, KTP dan kartu keluarga, dan di akhir tertulis, karangan tulisan.

Poin terakhir itulah yang membuatnya menghabiskan bergelas-gelas kopi tanpa menuliskan satu katapun pada lembar microsoft-nya. Bukan karena dia tidak pandai menulis, atau karena perutnya sakit akibat meminum kopi tanpa memasukkan sesuap nasi yang membuat asam lambungnya menjerit. Akan tetapi, karena judul yang diberikan oleh pihak penyelenggara membuatnya kehilangan gambaran tentang apa yang harus ia tuliskan. Mereka memberikan beberapa opsi judul, pertama, kehidupan perkuliahan, kedua, talaqqi di mesir, ketiga, bagaimana kamu mempersiapkan ujian.

Mungkin bagi pendaftar lain, judul-judul itu terlihat biasa saja, dan tidak terlalu membuat pusing. Mereka tinggal jujur saja dengan apa yang mereka alami. Di mana mereka bisa berkuliah seperti biasa, bertalaqqi seperti biasa, dan mempersiapkan ujian sebagaimana mestinya.

Namun tidak dengannya, ia tidak bisa menulis apa adanya seperti orang lain. Ia harus benar-benar mengarang. Semua judul yang diberikan itu membuat isi kepalanya berputar-putar tanpa henti, membuatnya ingin melarikan diri dari kepalanya sendiri.

Ketika sedang berfikir mengenai kehidupan perkuliahan, alih-alih tergambar papan tulis yang sudah penuh dengan bintik hitam tak beraturan, sosok duktur di depannya yang sedang menjelaskan pelajaran, atau ruang kelas yang ricuh karena perdebatan murid dengan guru, ia malah mendapatkan gambaran papan tulis berisi nama makanan dengan angka-angka yang tertulis di sampingnya, api yang membakar wajan berisi minyak yang terkadang melompat ke arah bajunya, juga suara bising makian dari seseorang dengan wajah yang memerah karena pesanannya tak kunjung datang,

”ih, lihat ustaz itu, bajunya jelek banget kayak gelandangan,” ucap suara yang ada dalam bayang pikirannya.

***

Tidak pernah terpikir juga olehnya gambaran mengenai dirinya pergi ke suatu dars, duduk tenang mendengarkan penjelasan syekh dengan kacamata berlensa tebal dan surban yang melingkar di lehernya, melindungi tubuhnya dari tusukan musim dingin yang meremukkan tulang. Pikirannya sudah disibukkan dengan tagihan rumah, listrik, air, juga wifi yang sudah lama tidak ia bayarkan sejak berbulan-bulan lalu.

Mungkin setiap mahasiswa di Mesir memiliki musim kesukaannya, ada yang suka musim dingin karena tidak perlu bergulat dengan keringat juga gigitan kepinding yang kadang membuat tangan dan kaki membesar seperti ingin meledak. Ada juga yang suka musim panas karena tidak perlu terganggu dengan cairan putih yang selalu tergantung di wajah, juga ketakutan terhadap panas yang berasal dari dalam tubuh.

Namun tidak dengannya, ia tidak pernah benar-benar menyukai salah satu dari musim itu. Di musim dingin, pikirannya diberatkan dengan uang yang harus dikeluarkan untuk membeli jaket untuk melindungi dirinya dari tusukan duri musim dingin, juga tagihan listrik yang membengkak karena sakhonah  (pemanas air) yang digunakan untuk menyembuhkan tusukan itu setelah berkeliling ke segala penjuru Darrasah untuk mengantarkan pesanan setiap orang.

Sedangkan di musim panas, hawa panas dari matahari, juga kompor yang menyala membuatnya terasa hampir mati karena kehabisan udara dalam ruangan penuh orang dan sedikit fentilasi. Juga panas matahari yang sesekali membuatnya sakit setelah berbenturan dengan lelah yang ia dapatkan setelah bekerja.

***

Sudah sampai gelas ketujuh, dan ia belum menemukan satu pun gambaran mengenai mempersiapkan ujian. Ia tidak pernah benar-benar mempersiapkan ujiannya dengan baik. Di saat orang-orang sibuk membolak-balikkan lembaran buku dan talkhisan, sampai-sampai tidak sempat untuk mengurus lambungnya yang mulai berteriak memohon untuk diisi, ia sibuk berperan menjadi santa claus, berpindah dari satu rumah ke rumah yang lain untuk mengantarkan kotak hadiah berisi ayam geprek dan nasi goreng Mutiara kepada mereka.

Sempat suatu hari ia memutuskan untuk mengambil satu hari libur dari pekerjaannya, karena ia berpikir untuk membaca muqarrar agar setidaknya ada beberapa nomor yang dapat ia jawab pada saat ujian. Namun, di saat ia sedang berjalan menuju manajer sambil membawa surat izin, ponsel yang ada di sakunya berdering. Kaki-kakinya berhenti sejenak. Tangannya meraih ponsel yang ada di dalam sakunya. Terihat di sana tertulis nama ibu.

”Maaf, ya, Nak, sepertinya ibu belum bisa mengirimkan uang, gaji ibu masih dipakai untuk bayar sekolah adikmu. Sebenarnya ibu udah ambil sambilan cari barang-barang bekas untuk dijual, cuman itu belum sisa untuk bisa dikirimkan ke kamu.”

Ia urungkan niatnya untuk menyerahkan kertas putih yang sedang ia bawa. Dengan mata memerah dan air mata yang membasahi bulu matanya, segera ia lari ke arah kamar mandi, ia remas-remas kertas itu, lalu membuangnya ke kloset sambil mengucapkan sumpah serapah ”anjinggg.”

Mengenang kejadian tersebut membuat mata si lelaki terasa panas, ada gumpalan air yang membuncah dari kelopak yang seakan memaksa untuk keluar, membuat pandangannya ke layar laptop sedikit terhalang. Ia beranjak, mengambil tisu sebelum kembali duduk di tempat semula. Mengelap air matanya sambil sengaja terbatuk kecil, menutupi isak yang tak tertahan di tenggorokannya, memaksa keluar.

Lima tahun yang lalu, kehidupannya sebenarnya tidak seperti ini, mimpi-mimpi itu, kesuksesan itu, masih terasa masuk akal untuk dicapai. Lima tahun lalu, sebelum kejadian sial itu menimpa dirinya, ibunya, juga ayahnya.

”Bapakmu meninggal, Nak.” Ucap ibu hari itu dengan suara serak dan tertahan, kabar itu datang bagai petir di siang bolong, dan lelaki itu adalah tiang listrik yang kena sambar. Mendengar kabar tersebut kepalanya seperti korsleting, tidak bisa bekerja selama beberapa detik.

Tenggorokannya seketika kering, membuat jakunnya naik turun dalam hampa, menelan ludah yang sebenarnya tidak ada.

”pagi tadi, dilindas mobil baja hijau”. Mendengar kabar tersebut, seketika terbayang wajah sang ayah, wajah yang teduh, senyumnya yang syahdu, serta setiap detail kerutan yang menambah kesan tegas di wajahnya. Terbayang pula wajah lelaki itu dengan tatapan kosong, tidak mengeluarkan suara, namun serasa ia dapat mendengar rintihan dan teriakan yang ada dalam hatinya, tidak ada sekat antara pipinya yang basah dan aspal, tangannya menjulur ke depan, mencengkram aspal dengan kuku-kukunya, mencoba menarik setengah tubuhnya yang ditimpa baja hijau dengan roda-rodanya yang bergerigi. Gambaran dua adiknya yang belum genap 10 tahun pun ikut menyusul, juga ibunya yang seorang ibu rumah tangga biasa memenuhi isi kepalanya. Dadanya sesak, hatinya hancur, mimpi-mimpi yang selama ini ia bayangkan pun ikut runtuh.

Bapaknya yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga telah pergi meninggalkan mereka semua. Ia yang selama ini mengais rezeki dengan berkeliling kota, dari pagi sampai sore, mengenakan jaket hijau, mengantarkan para pekerja kantor dengan sepeda motor tua yang sesekali batuk mengeluarkan kabut hitam. Malamnya, ia berjualan nasi goreng di alun-alun kota, menggunakan gerobak beroda tiga, sampai larut malam, sebagai penambah penghasilan.

Ia pergi tanpa aba-aba, tanpa peringatan. Hanya meninggalkan dompet berisi 150.000 hasil kerja pada hari kematiannya. Sawah yang dulu ia miliki sudah terlanjur laku terjual untuk memberangkatkan anak pertamanya kuliah ke Mesir.

Kehidupannya berubah seratus enam puluh derajat setelah kejadian tersebut. Semua beban yang awalnya ditanggung oleh sang ayah, seketika langsung berpindah padanya yang menyandang gelar anak pertama. Ia bahkan tak punya waktu untuk berduka, segera setelah kabar kematian sang ayah, ia harus  langsung memutar otaknya dengan sengat keras, memikirkan cara mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhannya, uang rumah yang belum terbayar, uang makan yang entah akan muncul dari mana. Segera setelah kematian sang ayah, Ia mulai mencari informasi tentang lowongan pekerjaan, menyabet semua yang ada di depan mata, bekerja siang sampai malam hanya demi bisa makan beberapa hari ke depan, kemudian menyisihkan sebagian penghasilan harian agar dapat dikirim setiap bulannya untuk membantu ibunya yang selama ini juga bekerja sambilan sebagai guru les.

Untungnya, ia secara tak langsung mewarisi skill memasak dan berkendara yang diwariskan oleh sang ayah, seperti semacam berkat yang sengaja diwariskan oleh mendiang ayahnya, ia dengan mudah mendapatkan pekerjaan part-time di sebuah warung makan Indonesia. Sejak saat itu, mulai dari subuh, ia sudah menghabiskan waktu untuk berdiri di depan kompor yang menyala, mengaduk kuah, memotong bawang, mencuci piring yang tak pernah benar-benar habis.

Menjelang sore, ketika tubuhnya mulai terasa berat sepulang dari warung, ia harus tetap berdiri kokoh, menggenggam stang motor dengan sisa tenaga yang ia miliki, berkeliling dari satu pintu imarah ke pintu imarah yang lain, mengantarkan pesanan makanan hingga larut malam. Menerjang angin malam yang sesekali menerpa wajahnya dengan mood naik turun, kadang mengelus sepoi-sepoi, tak jarang pula kencang layaknya menampar, menggetarkan tubuhnya.

Kini, tak seperti dulu, ia tak lagi bisa datang ke kelas setiap pagi, lalu melanjutkan talaqqi dan bimbingan belajar pada sore hari, atau sekadar nongkrong sambil haha-hihi bersama teman-temannya di malam hari. Hari-harinya sekarang dihabiskan di dapur sebuah tempat makan, melayani orang-orang hanya agar dapat bertahan demi dirinya, ibunya, juga kedua adiknya.

Semua rangkaian kenangan itu, seperti terputar dalam layar laptop yang ada di depannya. Menjelma ilustrasi hitam putih dalam lembaran kosong Microsoft Word sialan. Kursor kecil itu berkedip perlahan, seolah mengisyaratkan untuk menuliskan semuanya dengan jujur. Air matanya menetes, dadanya sesak, hatinya seperti dicabik-cabik, mengingat semua kejadian itu, luka-lukanya yang terpendam, mimpinya yang runtuh, bangkit menggerogoti dirinya.

Ia ingin lari, ingin segera ia menyudahi siksaan ini, tangisnya mengeras, diiringi isakan yang terus bertalu mencari ujung yang menolak untuk ditemukan.

Di titik ini, Semua gejolak yang ia rasakan membuat jari jemarinya seperti memiliki kehendak sendiri. Didorong oleh lonjakan emosi yang sudah memuncak, segera ia tuliskan di lembaran putih itu satu kalimat pendek yang mewakili semua ilustrasi hitam putih tadi, memadamkan huru-hara dalam kepala yang ia rasa semakin mengganggu kewarasannya, menumpahkan semua penderitaannya.

***

“Kami panggil sesuai nomor berkas, ya, pertama, rizkiii, bisa masuk ke ruang wawancara,” ucap pak Ichsan yang bertugas sebagai pewawancara di hari itu. Suara bising bisik-bisik mengisi lorong itu, tujuh belas orang dengan pakaian rapi, rambut klimis, sedang mempersiapkan jawaban dari soal-soal yang mereka ramalkan. ada yang ngomong sendiri, ada juga yang mendiskusikannya dengan teman di sampingnya.

Dalam ruang wawancara, pak rizki ditemani kopi panas dalam cangkir putih cantik, membaca setiap lembar dokumen berisi data diri juga esai yang dibuat oleh para pendaftar. Setelah dirasa ia memahami isi data tersebut, ia langsung memanggil pemilik berkas, memerintahkannya untuk masuk ke ruang wawancara.

Sampai orang ketiga, otaknya masih fokus memahami setiap kata yang dirangkai membentuk kisah pendaftar yang membuatnya dapat memahami diri penulisnya. Mulutnya juga masih lincah melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang membuat jantung pendaftar berdebar kencang.

Sampai orang kesepuluh, inderanya mulai melemah, yang ia pikirkan sekarang hanya rumah, sepiring nasi dengan rendang masakan istrinya, secangkir teh hangat, juga tawa anak-anaknya yang asyik menceritakan momen lucunya di sekolah. Kini, ia hanya membaca sampul dokumen dan menyoroti nama pemiliknya lalu memanggilnya.

Atas nama Akbar, silakan masuk ucapnya memanggil peserta terakhir. Tak ada yang menyahut, pun langsung masuk. Pak Ichsan memanggil sekali lagi.

“Atas nama Akbar,”

Masih tak ada jawaban. Ia akhirnya melangkah keluar untuk memeriksa lobi ruang tunggu. Tak ada orang di sana.

“Enggak hadir, yah.” Ucap lelaki itu sambil melangkah kembali ke mejanya. Ada satu kertas di sana, kertas hasil kerja sang pendaftar yang tidak datang itu. Pak Ichsan lalu mengambilnya, dahinya mengernyit saat mendapati hanya ada satu kalimat pendek di sana.

”AKU HANYA SEORANG TUKANG TAUSIL”

 

Artikel Terkait