Cerpen

Mati untuk Pulang

Penulis: Muh. Awaluddin | Editor: Muhammad Ichsan Semma

Kala malam memeluk gulita. Langit Darrasah tampak gelap kecoklatan dan awan berkumpul tanda sebentar lagi hujan akan turun. Aku duduk di depan mejaku dengan sorot lampu kuning yang senantiasa menemani. Sorot lampu yang tanpa kusadar mengarahkan pandanganku pada sebuah buku jurnal tua yang sudah berdebu di antara buku-buku di rak, dengan cover yang sudah berwarna coklat usang seperti seorang kakek yang duduk di depan rumah, menunggu ajal tiba. Melihat buku itu, seketika terlintas di kepalaku seseorang, dan ingin kumenulis surat untuknya.

Aku mengambil buku tersebut dan mulai kutulis surat;

“Kepadamu seribu empat ratus tahun yang lalu, seseorang yang begitu berjasa di negeri kinanah, negeri tempatku menimba ilmu, namun kini tinggal nama. Ingin kunaik di Cairo Tower lalu kuteriakkan namamu dan kuceritakan kisahmu. Kisah perjuangan yang diringi doa dalam setiap langkah pertempuran. Sekarang, negeri tersebut sangat indah dan dikunjungi oleh banyak orang. Hal itu senantiasa membuatku senang dan bersyukur, namun di sisi lain, ada pula sedih yang tumbuh saar melihat orang-orang yang datang ke sini juga mulai melupakanmu.”

Kuakhiri surat dan kuselipkan dibawah bantal dengan harapan bisa tersampaikan kepadamu.

Hujan mulai turun, angin berembus kencang, meniup segala hal di atas meja, termasuk lampu yang menemaniku pun ikut dibasahi, segera kututup jendela dan kumatikan lampu tersebut, agar tidak terjadi kerusakan pada lampu kesayanganku itu, dan bersiap untuk tidur. Saat semua semakin gelap, telingaku berdenging kencang seperti suara televisi rusak yang terus meningkat volumenya, kepalaku terasa pusing seakan ingin meledak dalam hitungan detik, sebelum akhirnya secara tiba-tiba mulai hening.

Sebentar kemudian, seperti sebuah mimpi buruk, aku terbangun tanpa mengetahui bagaimana tubuhku bisa berada di atas hamparan pasir yang lembut. Saat aku mengangkat tubuh, segala hal tampak asing, menoleh ke arah kiri, hamparan laut biru bening dengan terumbu karang yang tampak jelas di dalamnya. Bau asin, gurih, dan amis air laut memenuhi hidungku. Kutatap lebih jauh, ombak-ombak yang menghantam karang seakan mengajakku untuk bermain bersamanya. Lalu aku menoleh ke arah sebaliknya, berdiri gunung-gunung yang kokoh seperti tembok raksasa.

Diriku masih mencerna segala hal yang terjadi, bingung, takjub, heran, dan takut semua tercampur seperti semangkok bubur ayam yang teraduk amburadul dan rasanya kacau balau, menyisakan rasa sakit di kepala.

Tiba-tiba, dari arah depan muncul rombongan pria menaiki kuda dengan baju perang putih, mereka membawa panji hitam dan putih sembari menenteng tombak, ada juga yang memakai baju perang coklat khas timur tengah masa dulu disertai dengan pedang.

Di tengah wajah asing yang kulihat, tampak sosok familiar bagiku, sorban putih di kepala, dengan pakaian yang hampir juga sama dengan lainnya, namun di samping kesamaan pakaian, orang satu ini seakan memancarkan aura yang berbeda, sorotan mata tajam seperti elang yang memburu mangsa, janggut rapi dan perawakan yang berwibawa, “betul-betul sosok Jenderal yang mirip seperti dalam buku yang baru baru ini kubaca, tapi mirip siapa, ya? Khalid? Atau Umar? Ahhh bingung mengingatnya.

Belum sempat berpikir lama, tanpa kusadari rombongan pria tadi sudah sampai ke arahku, salah seorang dari mereka maju dengan ujung pedang terhunus lima senti ke tenggorokan, hampir menempel di leherku.

“Pasti Romawi,”gumam seorang tentara yang menghunus pedang. Tentara lainnya berkata “Mana mungkin, liat saja tubuhnya yang pendek, pakiannya cuman baju polosan, tidak bawa senjata, tidak mencerminkan tentara romawi sedikit pun.”

Aku duduk di sana, menyimak sembari menelan ludah, memastikan leherku benar-benar tidak terkena hunusan pedang dan masih berfungsi sebagaimana mestinya. Mendengar perkataan yang kutaksir bahasa Arab yang entah mengapa, walau bukan bahasa yang biasa kupakai namun aku paham dengan yang mereka katakan.

“Pastikan terlebih dahulu”, bisik pria yang tak asing bagiku tadi kepada tentaranya. Bisa dilihat dari gaya bicaranya, sepertinya ia semacam Jenderal atau pemimpin rombongan ini.

“Darimana?”, tanya seorang tentara dengan kumis panjang kepadaku.

“A..a..aku juga tidak tahu bagaimana bisa tiba-tiba berada disini,” jawabku dengan jujur meski gugup.

Tubuhku terpaku mematung, keringat dingin membasahi seluruh tubuh, rasa takut menyelimutiku. Seperti memahami keadaanku, pria yang tampak tidak asing tadi datang menghampiri, memberi minum, dan menenangkan pikiranku.

Dari kejauhan kudengar percakapan diantara para tentara.

“Mau kita apakan anak ini?”

“Beban, tinggalkan saja, kita lagi buru-buru,” ucap yang lain.

“Kalau ditinggalkan dia akan mati.”

Mendengar pembicaraan tersebut, jantungku berdegup kencang, sekilas berhenti, sebelum kembali berdetak dengan pacuan yang lebih cepat  lagi dan lagi seiring mendengar perbincangan mereka. Baru bertemu orang di tengah kebingungan asa sudah mau ditinggal, hampir ditebas di leher pula, malang sekali nasibku ini. Pembicaraan itu, terus berlanjut hingga akhirnya sang Jenderal  menoleh ke arahku.

“ikut saja,” ucap sang Jenderal tadi, nadanya tegas dan terkesan memerintah.

Belum sempat aku memberikan jawaban, ia kembali berkata,”kalau memilih tinggal, jauh lebih berbahaya, ikutpun akan tetap berbahaya tapi aku akan melindungimu,” tegasnya.

Cemas dan takut bercampur, setiap kemungkinan kedepannya seperti berada dalam kabut tebal tanpa penglihatan yang jelas, seperti itulah yang kurasa, tapi aku memilih untuk tetap ikut.

“Kita bergerak,” kata Jenderal kepada pasukannya.

Mereka mulai berjalan dengan aku yang berada di tengah-tengah mereka,  dengan langkah yang diiringi rasa ragu dan cemas. Menoleh ke arah kanan dan kiri, aku mengamati ribuan pasukan yang ada di sekitar, ada yang mengaji di atas kudanya, ada pula yang berbincang dengan teman di sebelahnya, dan ada juga yang tetap waspada, siap sedia dengan setiap kemungkinan bilamana musuh tiba-tiba menyergap.

Tiba-tiba rasa penasaranku muncul. Aku ingin berkenalan dengan tentara yang mengaji di atas kudanya. Namun kembali kuurungkan niatku, melihat dia yang sangat fokus.

“Mungkin nanti saja kenalannya ketika ada waktu yang pas,” ucapku dalam hati.

Di tengah perjalanan, aku mendengar percakapan di antara tentara.

“Kudengar orang-orang Romawi itu memberi pajak tinggi yang sulit dibayar oleh rakyatnya,” celetuk salah satu tentara, yang langsung dibalas oleh tentara lainnya,

“Benar, aku dengar juga begitu, penghasilan mereka yang sedikit, namun berbagai kegiatan dikenakan pajak oleh mereka, tidak masuk akal, dasar biadab.” Tentara yang satunya lagi juga ikut nimbrung,

“Iya, betul itu, selain pemerintahan Romawi yang mulai menindas rakyat, di satu sisi juga keadaan penduduk lokal yang tidak memungkinkan melawan pemerintah. Hal ini membuat kita dengan mudah memasuki Mesir, rakyat yang bersikap netral kepada kita, dan juga tujuan kita pun sama dengan mereka, ingin menjatuhkan kekaisaran Romawi di Mesir.”

Mereka semua berbicara dengan bahasa asing, yang entah mengapa, lagi-lagi, bisa kumengerti. Aku hanya menyimak, sambil mencoba mengingat-ingat kembali pelajaran di kuliah, kapan tentara muslim mulai bertemu langsung dengan pasukan Romawi di Mesir?

Entah sudah berapa lama kami berjalan. Hingga akhirnya, pasukan mulai memperlambat langkahnya. Dari kejauhan aku melihat bangunan besar seperti benteng, beberapa tentara berpakaian perang romawi kuno menjaga.

“Kita sudah sampai di kota Farma,” ucap Jenderal dengan suara yang begitu keras.

Jantungku seakan berhenti sesaat.

“Farma…?” Bisikku dalam hati.

Nama itu terasa familiar di kepalaku. Berdasarkan buku sejarah yang pernah kubaca, pasukan Muslim harusnya memasuki kota Farma dengan tanpa kendala. Kekaisaran Romawi yang mulai melemah menjadi sebab kota-kota di perbatasan seperti Farma mulai tidak terjaga dengan baik, sehingga dengan mudah dikalahkan.

Pembicaraan para tentara tadi pun memperkuat dugaanku, di buku diceritakan bahwa para penduduk di kota ini pun berharap pasukan muslim membebaskan mereka dari ketidakadilan penguasa romawi dalam pembagian upah dan pajak yang mencekik keadaan rakyat Mesir yang memang sudah miskin dari sananya saat itu. ah ini juga sesuai dengan percakapan yang kudengar tadi oleh para tentara.

Setelah matahari terbenam, kami memasuki kota Farma dengan lancar, persis seperti yang kubaca. Penduduk lokal menyambut kami dengan tangan terbuka, para tentara disuguhkan makan dan minum oleh mereka, begitu pun aku yang juga diberikan tempat untuk beristirahat.

Saat malam mulai mencapai pertengahan, kami bersama dengan penduduk kota bercengkerama  di sebuah alun-alun,  dengan seekor kambing dari warga yang dibakar ditengah-tengah kami. Aroma kambing bakar yang terbakar oleh kayu mulai menggelitik perut kami membuat suasana mulai terasa hangat. Aku juga mulai berkenalan dengan tentara, yang ketika di perjalanan aku ingin berkenalan dengannya. Kebetulan dia kini duduk di sebelahku.

“Namamu siapa, Tuan?” Tanyaku kepada tentara yang duduk disebelah.

“Khalid Kasmiri,” ucapnya dengan suara lembut namun terkesan sedikit tegas.

Kuperhatikan sewaktu di perjalanan, dia mengisi waktu kosong dengan mengaji di atas kudanya, dia tidak banyak bicara, itulah kesan pertamaku melihatnya. Saat sekarang dia duduk disampingku, sesekali dia menoleh kearahku, memastikan apakah aku baik-baik saja. Kehadirannya mungkin sederhana, tapi membuatku merasa lebih aman dikelilingi orang-orang seperti dia, tentu dengan sang Jenderal juga yang selalu memperhatikan ku.

“Kita akan kemana lagi setelah ini?” bisikku kepada Khalid.

“Kita akan…,”

SRETTT, sebuah anak panah melesat, menancap tepat lima jengkal di depanku, membuat jantungku hampir copot.

“Romawi datanggg,” ucap salah satu penduduk desa dengan lantang.”Lari…,” susulnya dengan gemetar.

Serentak semua berdiri, langkah panik tentara mengambil pedang dan perisai, dari atas ribuan anak panah meluncur cepat, menghujani alun-alun kota. Kambing yang sedari tadi ingin kulahap kini sudah menjadi satu dengan tanah. Tentara romawi yang mulai berdatangan dari arah gerbang kota.

“POSISI BERTAHAN, SEGERA!!!,” Perintah sang Jenderal dengan suara yang menggelegar ditengah pasukan.

Khalid yang duduk disampingku, bergerak lebih cepat dari yang kukira, tangannya mencengkram bahuku, menarikku ke arah belakangnya. Aku tersandung, hampir jatuh karena gerakan tiba-tiba itu, namun ia sempat menahanku. Kucoba setenang mungkin, meski dadaku terus bergejolak.

Aku melihat dari kejauhan, sang Jenderal yang sibuk mengatur kembali pasukan yang kocar-kacir akibat serangan musuh secara tiba-tiba, diselingi dengan tangan yang memegang perisai yang terus menerus menepis anak panah dari musuh.

SRETT,SRETT,SRETT…, suara anak panah yang terus berdatangan.

Khalid terus berdiri di depanku, menghalau anak panah yang datang, sebelum akhirnya anak panah yang lain menancap di dadanya. Perlahan melangkah mundur, lututnya mulai menyentuh tanah, tangannya yang kokoh memegang perisai mulain melepas cengkramannya. Tubuhnya mulainya jatuh dan memberikan hentakan yang membuat debu di sekitarnya terangkat.

Semuanya terasa begitu cepat, membuat tarik hembus napasku saling memburu. Semerbak aroma anyir darah yang terus keluar dari tubuh khalid akibat panah yang menembus dadanya memenuhi hidungku, sampai membuat kepalaku sakit. Aku kini hanya berdiri mematung seperti burung patah sayap patah paruh. Rasa takut membuatku mundur selangkah. Lalu selangkah lagi. Namun, melihat pengorbanan dari Khalid, membuatku merasa bahwa aku harus tetap maju.

Dengan napasku yang mulai kuatur kembali, dengan tenang memperhatikan sekeliling. Di tengah ketegangan yang terjadi, ting…ting…ting suara adu pedang antar tentara, sebuah solusi muncul bersamaan dengan mataku yang tanpa sengaja melihat ke arah sang Jenderal.

Aku segera mengarah kesana. Langkahku berat, tapi tetap kupaksa.

“Sedikit lagi…,” ucapku

Jarak kapten denganku tersisa beberapa meter di depanku.

“Jen…,” belum sempatku memanggilnya, sesuatu menembus tubuhku.

Aku menundukkan kepala, melihat sebuah anak panah sudah melesat masuk di bahuku. Langkahku berhenti begitu saja. Nafasku terpotong. Tanganku gemetar saat berusaha menyentuh anak panah di tubuh. Suara di sekeliling tampak menjauh, seperti tenggelam ke dasar laut. Pandangan mulai kabur. Kulihat dengan samar sang Jenderal yang lari menghampiriku. Kakiku tak lagi kuat menahan tubuhku. Perlahan mulai roboh menimpa tanah. Detak jantung yang semakin pelan.

Duk…….duk……..duk….., diiringi jantung yang melemah, mataku perlahan menutup.

Beberapa saat kemudian, aku merasakan ada tangan kuat yang mengangkatku. Dengan langkah yang tegas, ia berbisik kepadaku.

“Tenang, semua akan baik-baik saja,” ucapnya.

Dari suaranya, aku mengenali bahwa itu sang Jenderal yang sedang mengangkatku ke tempat yang aman. Peralahan kubuka kembali mataku, memastikan bahwa yang menangkatku ada sang Jenderal, lalu kututup kembali seiring tubuhku yang semakin melemah.

Aku kemudian merasakan tubuhku dibaringkan di suatu tempat, tidak tahu dimanakah itu, namun tenang dan sunyi kurasakan begitu tampak familiar. Aku ingin kembali membuka mata, akan tetapi tubuhku masih belum bisa mengeluarkan tenaga untuk itu.

Suara sang Jenderal yang kembali kudengar berbicara kepadaku, “kita sudah aman,” bisiknya.

Aku tidak bisa menjawabnya, bahkan mulutku pun terasa berat untuk terbuka.

Perlahan rasa sakit akibat tusukan panah kini memudar, detak jantungku yang perlahan kembali berdeguk normal. Kutarik nafas dengan lembut, lalu kuhembuskan secara perlahan, terus kulakukan hingga tubuhku merasa rileks. Aku membiarkan diriku tenggelam dalam ketenangan. Hingga….

Brak!!!

Suara hentakan keras memecah kesunyian. Aku tersentak dan bangun. Mataku tiba-tiba terfokus pada jendela di depanku yang terbuka akibat diterpa angin hujan yang kencang.

  • Mahasiswa Jurusan Tarikh wal Hadarah Universitas Al-Azhar Mesir. Menjadi bagian dari keluarga Wawasan Mesir sejak 2025. Suka traveling, diskusi sejarah, dan minum kopi. Kenalan lebih dekat di Instagram @awald.in

    Lihat semua pos

Artikel Terkait