Penulis: Bilqis Jasbil Azis | Editor: Muhammad Ichsan Semma
Suasana kelas pagi ini sedikit tegang, sebabnya tak lain dan tak bukan adalah karena pembahasan yang dibawa oleh dosen yang cukup berat. Semua orang di kelas terlihat kebingungan, terlihat dari wajah mereka yang begitu tak karuan, seperti orang yang habis makan pedas tapi tak kunjung diberi minum. Semuanya kecuali aku, tentunya.
Tidak seperti mereka, aku justru menikmati kedalaman pembahasan ini, terbawa di setiap kaidah yang dibawakan oleh sang dosen, terhanyut di tiap ucapannya. Tidak seperti mereka, menurutku aku punya perbedaan dan keunggulan sendiri. Suka duduk paling depan, menatap papan tulis dengan sangat tajam dengan telinga yang jelas menangkap setiap huruf yang diucap oleh sang dosen, sampingan kitabku penuh dengan catatan kotor yang menambah pahamku, warna-warni stabilo menghiasi baris kitabku.
Tidak seperti mereka, mataku tak ada diselingi kantuk sama sekali. Tak seperti Jia, teman rumahku yang duduk tepat di sampingku saat ini, ia sedari awal sudah tak paham, padahal kami memulai kelas ini bersama.
Dapat kulihat dari sudut mata, Jia sibuk mengambil gambar di halaman kitabnya lalu menerjemahkannya ke Google, tak masalah sebenarnya, tapi pandangku aneh saja, sudah di level perkuliahan tapi masih saja meminta bantuan Google untuk memahami makna, bahkan tak jarang kudapati Jia berguru dengan Chat GPT, sekaligus meminta untuk diringkaskan isi materi diktat kuliah, yang mana sebenarnya, hanya bisa dipahami saat kau hadir di kuliah itu sendiri, duduk paling depan, dan memperhatikan setiap kalimat yang disampaikan dosen.
Di sisi lain, aku juga bertanya-tanya mengapa dia tidak berguru padaku saja, padahal aku teman rumahnya, apa mungkin dia malu atau minder, entahlah, setidaknya aku sudah memberikannya contoh baik dariku untuk selalu rajin belajar.
***
Kuliah pun selesai, semua bergegas dengan cepat, sebagian mengeluarkan sajadah lipat lalu membentangkannya di pojok kelas dan melaksanakan salat Zuhur, sebagian yang lain dengan cepat melangkah keluar untuk berburu tremco.
Aku dan Jia berjalan menuruni anak tangga dengan terburu-buru, dari arah berlawanan rombongan yang terdiri dari kurang lebih 50-an orang turun serentak, menghantam kami seperti air bah, pundak demi pundak saling bertabrakan, saling berlawanan arah, membuatku hampir berpisah dengan Jia, untung saja aku sempat menggapai tas merah mudanya yang sangat mudah dikenali.
Setelah sampai di pelataran kampus, kami berjalan melewati banyak pedagang yang berbaris rapi dengan wajah penuh senyum, harap, dan doa-doa yang terus kali terulang tiap harinya, mataku tertuju pada tremco yang baru saja tiba.
Belum sempat berhenti untuk mencari tumpangan lain, gerombolan mahasiswa lebih dulu berlari dan mendatangi tremco yang masih setengah berjalan itu, bagaikan zombi yang sedang lapar-laparnya, mereka tidak memberikan kesempatan kepada penumpang sebelumnya untuk turun. Tingkat keserakahan ammu tremco lebih liar lagi, saat muatan sudah full, ia masih terus saja memaksa yang lain untuk masuk walau harus bersempit-sempit.
Jia menarikku lalu berjalan mendatangi kakek pedagang tisu yang duduk di ujung jalan dengan satu keranjang hitam terbalik dengan beberapa biji tisu yang ia jual, di sampingnya ada sepotong roti isi daging yang sedang digerogoti anjing.
Roti itu dari Jia, diberikannya tadi pagi saat sebelum masuk gerbang kampus, kakek itu mengenal Jia, mahasiswi perempuan yang rajin membeli tisunya, kakek itu menyapaku, tapi aku langsung menarik tangan Jia karena di ujung angkringan sana ada tremco yang baru datang dan kebetulan tumpangan itu menuju Darasah, kawasan tempat rumahku dan Jia berada.
Jia berusaha melepas genggamanku tapi tak kubiarkan agar kami bisa bersamaan pulang, adegan tarik-tarikan akhirnya dimenangkan olehku yang berhasil menarik Jia duduk bersama di atas tremco, meskipun tidak bisa disebut kemenangan telak sebab kami mendapatkan tempat duduk tepat di belakang supirnya, walau sempat menolak karena aku tak mau repot-repot menghitung uang, tapi tumpangan sudah sangat penuh di belakang.
Perjalanan pulang, seperti biasa penumpang akan mengoper uang dari belakang, sudah kuduga akan ada yang menyodorkan uang itu kepadaku sebelum sampai ke supirnya. Aku tak berbalik, aku tidak mau karena aku merasa lelah dan ngantuk, oarang di belakangku terus saja memanggil ku “ustazah, ma’lesy, aku tak menghiraukannya lalu ku balikkan badanku seolah menolaknya dan menutup wajahku dengan kain hijabku. Jia mencolekku, lalu dia yang mengambil uangnya, menghitungnya lalu memberikan supirnya.
Sesampainya kami di rumah, aku langsung membuka pintu, melepas sandal lalu meletakkan tasku, aku bergegas masuk kamar untuk tidur siang, kepalaku terasa sangat pusing. Belum sempat menutup mata, terdengar suara Jia meneriakiku dari luar kamar “Salat Zuhur dulu baru istirahat,” tapi aku sudah sangat mengantuk dan lelah, aku hanya melanjutkan tidurku, lagipula masih ada sejam lagi sebelum masuk waktu Asar.
***
Dering teleponku berbunyi terus-menerus, telepon dari Jia masuk, pesan spamnya sangat banyak, Membangunkanku yang sudah cukup lama tertidur, aku melihat layar gawai yang menunjukkan pukul 18:30.
Aku bangun dengan perasaan tidak enak, angin dingin masuk lewat jendela kamar yang belum tertutup, aku keluar kamar dan mencari Jia, ruang belajar sangat gelap, tak ada Jia disana, perasaanku sangat sunyi, pikiranku kosong, pertanda dari tubuh bahwa aku belum sadar sepenuhnya, rasanya seperti di hutan, tembok-tembok di ruangan ini terasa lebih dingin dari biasanya, menusuk, seperti beberapa mata sedang menatapku tajam dari sudut sudut ruang tamu.
Aku duduk memperbaiki perasaan, meneguk segelas air putih, angin sepoi dari jendela yang belum tertutup seperti membawa suara keresahan, suara yang terasa seperti punya niat, menggerogoti hati seakan ingin membunuh, suara keramat yang merasuk ke telinga hingga dadaku.
Suara ibu. Suara itu lirih, meledak-ledak, seperti suara dentuman petasan yang menggetarkan jantung, membuatku ingin beranjak dari dudukku, tapi tubuhku bagai diikat untuk tetap duduk di sana.
“Kamu harusnya bisa lebih membanggakan, sudah sekolah jauh di sana, lihat adikmu! Sudah diterima di kedokteran, walaupun cuman di Indonesia tapi buat Ibu jadi bangga banget.” Setelahnya suara itu berubah, menjadi lebih tegas meski masih dengan nada berbisik, aku mengenalinya dengan jelas, suara itu, suara ayah.
“Harus cepat lulus, soalnya kalau kuliah agama takutnya nanti susah dapat kerja, kalau kedokteran aja kayak adikmu kan prospeknya bisa lebih gede,”
Tak terasa air mata membasahi pipiku, aku menutup mata lalu semua kembali terasa saat di mana aku memutuskan untuk pergi jauh dari rumah, saat di mana aku mengira kepergianku akan membungkam semua perbandingan-perbandingan yang selalu dihidangkan oleh orang tuaku, saat dimana ambisiku melambung tinggi, saat ternyata dendam ikut terbang bersamaku, dan saat ego mulai merasukiku.
Dadaku sesak, sedihku mulai bersuara, kini iringan desak tangis memecah keheningan malam, saat aku tersadar bahwa aku tidak pernah menjadi bagian yang membanggakan, lalu untuk apa semua ini kulakukan?
Aku mencoba mengingat semua yang telah kulewati, semua usaha seperti tak berarti apa-apa, aku malu pada aku yang terlalu angkuh, aku yang melihat semua rendah dariku, aku yang menjadikan orang-orang sekitarku sebagai tolak ukur keberhasilanku yang akan tetap tidak dilihat.
Di tengah semua perasaan hancur itu, entah dari mana sebuah perasaan hangat seketika muncul, membuncah seperti mawar merah yang tumbuh subur di tengah kuburan. Di dalam dada, kurasa ia membakar, melawan dingin yang sedari tadi mencengkeram sekujur tubuh dan jiwa.
Semakin besar, dapat kurasakan hangat itu merangsek keluar dari tubuh, menjelma sosok cahaya kekuningan yang merengkuhku dengan lembut, kucoba mengangkat kepala untuk melihat dengan jelas sosok tersebut, menggerakkan leher yang masih sesekali tersedak oleh isak yang menolak untuk berhenti, saat akhirnya berhasil kuangkat kepalaku, ternyata…
Brakk!!! Aku terbangun oleh suara pintu, “Oi, bangun 30 menit lagi masuk Asar, kamu belum salat Zuhur.” Ucap Jia yang kini berdiri di ambang pintu. Mengenakan mukena dengan warna kuning terang, seterang warna pink tas kuliahnya.
Aku bangun dengan sedikit sesak di dada, aku mengambil napas dalam, dan mengusap dadaku, membuka ponselku yang di layar kuncinya terpajang foto ibu dan ayahku. Aku lalu bergegas untuk melaksanakan salat Zuhur.






