Cerpen

Kau Akan Ada, Selalu

Penulis: Akmal Sulaeman | Editor: Muh. Alwi Agung

Setiap malam selama tujuh bulan terakhir, Sari berbaring dengan buku nama yang terbuka di dadanya, membaca satu per satu dengan bibir bergerak pelan, seperti sedang mendoakan sesuatu yang belum lahir namun sudah lebih nyata dari apapun yang pernah ia pegang.

Aris. Dian. Raka. Zein

Di antara nama itu, tidak ada yang terasa tepat. Atau mungkin semuanya terasa terlalu tepat sehingga ia tidak sanggup memilih, karena memilih berarti yang lain gugur, dan ia belum siap untuk menggugurkan apapun.

Malam itu berbeda dari malam-malam sebelumnya, meski Sari tidak tahu mengapa.

Tangannya bergerak sendiri ke perutnya.

Di sana, sesuatu bergerak membalas.

Ibu.

Sari mengerjap. Bukan karena kaget, sudah lama ia mengenal komunikasi tanpa suara ini, bahasa yang tumbuh sendiri di antara mereka berdua sejak bulan keempat, sejak pertama kali tendangan itu terasa seperti pertanyan, bukan sekadar refleks.

“Kamu belum tidur?”

Aku sedang mendengarkan.

“Mendengarkan apa? Sepi?”

Mendengarkan kamu. Detak jantungmu malam ini berbeda.

Sari menghela napas. Anak ini bahkan sebelum lahir, sudah terlalu jeli untuk kebaikannya sendiri.

“Ibu baik-baik saja.”

Kamu bilang itu tapi tubuhmu berkata lain. Aku tinggal di tubuhmu. Aku tahu bedanya.

Sari menutup matanya. Di luar angin bergerak di antara daun-daun mangga tua yang sudah ada sejak sebelum ia pindah ke rumah ini.

Ada sesuatu tentang malam ketujuh bulan yang tidak pernah diceritakan dalam buku kehamilan manapun.

Bukan tentang fisik, bukan tentang punggung yang pegal atau tidur yang tidak pernah benar-benar tuntas. Tapi tentang rasa yang datang di antara terjaga dan tidur, rasa bahwa kamu sedang berada di tengah sesuatu yang tidak akan terulang. Bahwa momen ini — perut yang besar, gerakan yang terasa dari dalam, kedekatan yang tidak membutuhkan kata-kata — akan berakhir. Dan berakhirnya adalah sesuatu yang kamu tunggu sekaligus takuti dalam waktu yang bersamaan.

Ibu, ceritakan tentang dunia

“Yang mana? Dunia ada banyak.”

Yang akan aku masuki.

Sari memindahkan posisi berbaring. Satu kaki ditekuk, satu lurus, bantal di antara dengkul, ritual tubuh yang sudah hafal sendiri.

“Dunia itu…” ia berhenti. Mencari kata yang jujur tapi tidak kejam. “Dunia itu seperti pohon mangga di luar itu. Akarnya dalam, batangnya keras, kadang buahnya manis, kadang masam. Tapi tetap tumbuh. Musim apapun itu.”

Ibu suka dunia?

“Aku mulai belajar untuk suka.”

Bedanya?

“Suka itu pilihan. Belajar suka berarti kamu pernah hampir tidak memilihnya.”

Hening yang panjang. Di dalam hening itu, gerakan kecil, bukan tendangan, lebih seperti telapak tangan yang menempel dari dalam, mencari sesuatu untuk dipegang.

Aku tidak mau membuat ibu lelah.

Tenggorokan Sari terasa seperti ada yang menggenggamnya dari dalam.

“Kamu tidak pernah membuat ibu lelah.”

Tapi ibu menangis waktu malam. Aku dengar.

“Itu bukan karena kamu.”

Lalu karena apa?

“Karena ibu…” Amigdalanya memicu air mata mengucur sebelum ia lanjut memberi alasan.

Sari tidak lanjut memberi alasan. Ia kembali mengusap perutnya dengan penuh kasih.

***

Dokter itu berbicara dengan suara yang terlalu hati-hati.

Sari sudah belajar membaca suara manusia sebelum membaca kata-katanya, kebiasaan yang tumbuh sejak kecil, sejak ia sering duduk di luar kamar orang tuanya dan mendengar nada percakapan tanpa bisa menangkap isinya. Suara hati-hati selalu berarti berita yang tidak muat dalam kalimat biasa.

“Kondisi ibu stabil untuk sekarang.” Dokter Wirawan meletakkan map di meja dengan gerakan yang terlalu terukur. “Tapi eklampsia berat di usia kandungan ini memberi kita pilihan yang… tidak mudah.”

Mulyadi, suaminya, duduk di sebelahnya. Tangannya menggenggam tangan Sari terlalu erat — erat seperti orang yang tahu ia sedang kehilangan pegangan tapi belum mengakuinya.

“Maksud dokter?” Suara Mulyadi retak di tepi.

Dokter Wirawan menatap Sari, bukan Mulyadi. Sebab ia tahu, seperti semua dokter yang sudah cukup lama menyaksikan hidup dan mati — bahwa dalam ruangan ini, yang harus paling mengerti adalah perempuan yang tubuhnnya sedang menjadi medan pertempuran.

“Tekanan darah ibu tidak bisa dikendalikan dengan cara biasa. Setiap hari kandungan ini dipertahankan, risikonya berlipat.” Ia berhenti sebentar. “Untuk ibu.”

Sari mengangguk pelan. Bukan karena mengerti sepenuhnya, tapi karena tubuhnya sudah lebih dulu mengerti, jauh sebelum kata-kata sampai.

***

Malam itu, Mulyadi menangis di kamar mandi.

Sari mendengarnya melalui pintu yang tidak cukup tebal untuk menyembunyikan apapun. Tangis laki-laki yang berusaha tidak terdengar adalah salah satu suara paling sunyi dan paling keras di dunia — paradoks yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang pernah mendengarnya.

Ia tidak mengetuk pintu. Ia hanya berbaring dan meletakkan tangannya di atas perutnya.

Di sana, sesuatu kembali bergerak. Pelan. Seperti seseorang yang ingin memastikan kamu masih ada.

Ibu.

“Kamu terjaga?”

Aku selalu terjaga kalau ibu tidak tidur. Kita satu napas, ingat?

Sari tersenyum ke langit-langit. Satu napas. Kalimat yang tidak pernah ia ajarkan, tapi entah dari mana, sudah dimengerti.

“Iya. Kita satu napas.”

Ibu kembali menangis tadi.

“Sedikit.”

Bohong. Banyak.

Ia tidak membantah.

Ada apa, ibu?

Sari menatap langit-langit kamar. Ada retakan kecil di sudut kanan, sudah lama ingin diperbaiki, tapi selalu tertunda. Ia berpikir tentang hal-hal yang selalu tertunda dan tidak pernah sampai pada waktunya.

“Ibu sedang memikirkan sesuatu,” katanya akhirnya.

Tentang aku?

“Tentang kita.”

Hening. Di luar, seekor kucing lewat di atas genteng dengan langkah yang tidak meninggalkan suara — makhluk yang tahu cara berada di dunia tanpa meminta izin.

Ibu takut?

Sari memejamkan mata. Di balik kelopak matanya yang gelap, ia melihat wajah yang belum ada — wajah yang ia bayangkan setiap malam, kadang bermata besar seperti Mulyadi, kadang berhidung warisan neneknya yang sudah lama pergi. Wajah yang belum pernah ia lihat tapi sudah ia kenali.

“Ibu tidak takut,” katanya. Dan anehnya, itu bukan kebohongan. “Ibu hanya… belum siap.”

Belum siap untuk apa?

Untuk menjawab pertanyaan itu, Sari butuh waktu yang lebih panjang dari semalam. Maka ia tidak menjawab. Ia mengalihkannya dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh seorang ibu — dengan pertanyaan balik yang terasa seperti pelukan.

“Kamu sudah siap untuk keluar?”

Belum, jawab suara itu, jujur seperti selalu. Di sini masih terlalu enak.

Sari tertawa. Tertawa sungguhan, dari perut, dari tempat yang sama di mana anaknya tinggal, dan gerakan tawa itu disambut dengan tendangan kecil dari dalam, seperti ikut tertawa, seperti tidak mau ketinggalan.

“Egois,” bisik Sari, mesra.

Belajar dari siapa?

***

Tiga hari setelah pertemuan dengan dokter Wirawan, Sari duduk di teras belakang sendirian.

Mulyadi sedang bekerja — ia yang memintanya pergi, karena ada hal-hal yang hanya bisa dipikirkan dalam kesendirian, dan Suaminya itu sudah belajar mengenali kapan istrinya butuh ruang meski butuhnya tidak pernah diucapkan.

Pohon jambu di sudut teras sedang bebuah. Buah-buah kecil kehijauan bergantung seperti keputusan yang belum matang.

Sari meletakkan tangannya di perutnya.

Ibu.

“Hmm.”

Aku ingin tanya sesuatu.

“Tanya.”

Apakah ada sesuatu yang ibu belum ceritakan padauk?

Jantung Sari berhenti satu ketukan, atau begitu rasanya. Kemudian berjalan lagi, lebih berat dari sebelumnya.

“Ada,” katanya. Karena berbohong pada sesuatu yang tinggal di dalam tubuhmu sendiri adalah kemustahilan.

Ceritakan.

Angin lewat. Buah jambu bergoyang. Di langit, awan bergerak dengan kecepatan yang selalu tampak terburu-buru dari bawah.

“Dokter bilang…” Sari berhenti. Mengatur napas. “Dokter bilang tubuh ibu sedang tidak kuat menanggung kita berdua.”

Maksudnya?

“Maksudnya…” ia mencari kata yang paling jujur sekaligus paling lembut, tapi kata seperti itu mungkin tidak ada. “Salah satu dari kita harus mengalah.”

Hening yang panjang. Bukan hening kosong, hening yang penuh dengan sesuatu yang tidak punya nama.

Siapa yang mengalah?

Sari tidak menjawab. Tapi tangannya membelai perutnya dengan gerakan yang terlalu lembut, terlalu sadar diri, terlalu mirip perpisahan.

Ibu jangan, suara itu datang berbeda dari biasanya. Bukan pertanyaan. Bukan pernyataan. Sesuatu di antara keduanya, semacam permohonan dari makhluk yang belum tahu cara memohon tapi sudah merasakannya perlu. Ibu jangan yang mengalah.

“Bukan soal mengalah,” kata Sari pelan. “Lebih seperti… memilih.”

Kalau begitu, pilih dirimu, ibu.

“Ibu sudah memilih.”

Pilih dirimu, ibu, ulangnya, dan kali ini ada sesuatu dalam pengulangan itu yang membuat dada Sari seperti diremas dari dalam. Aku belum siap kehilangan ibu bahkan sebelum aku tahu apa artinya kehilangan.

Sari menunduk ke perutnya. Air matanya jatuh satu — kemudian tidak bisa berhenti.

“Justru karena itu,” bisiknya. “Justru karena kamu belum tahu apa artinya kehilangan, ibu ingin kamu tetap tidak tahu. Selama mungkin.”

Tapi aku akan tahu. Nanti aku akan tahu dan aku tidak akan punya cara untuk memberitahumu bahwa aku mengetahuinya.

Sari mengusap air matanya dengan punggung tangan.

“Kamu akan punya bapak.”

Bapak bukan ibu.

“Memang bukan. Tapi dia mencintaimu dengan cara yang sama besarnya. Dengan cara yang berbeda tapi sama dalamnya. Kamu akan baik-baik saja.”

Ibu tahu itu pasti?

“Tidak ada yang pasti di dunia ini.” Sari menarik napas panjang. “Tapi ada hal-hal yang kamu yakini bukan karena bukti, melainkan karena kamu tidak punya pilihan selain percaya. Dan ibu percaya — kamu akan baik-baik saja.”

Angin datang lagi. Kali ini lebih lama, lebih dingin, seperti sesuatu yang ingin berlama-lama sebelum pergi.

Aku tidak mau ibu pergi.

“Ibu tahu.”

Aku tidak akan ingat suaramu.

Kalimat itu, sederhana, polos, tanpa pretensi— menghantam Sari di tempat yang tidak ada namanya.

“Tidak,” afirmasinya pelan. “Kamu tidak akan ingat. Kamu masih terlalu kecil untuk menyimpan ingatan.”

Lalu bagaimana aku tahu ibu pernah ada?

Sari duduk tegak. Dalam matanya ada sesuatu yang berubah, bukan berhenti sedih, tapi kesedihan yang menemukan bentuknya, yang akhirnya tahu cara berdiri.

“Setiap kali kamu merasa hangat tanpa tahu dari mana asalnya,” katanya perlahan, “Itu ibu. Setiap kali kamu berani melakukan sesuatu yang menakutkan — itu juga ibu. Kamu tidak akan ingat wajah ibu. Tapi cara ibu mencintaimu sudah ibu titipkan di dalam tulang belulangmu, di dalam cara jantungmu berdetak. Kamu tidak perlu ingat. Karena ibu tidak akan pernah benar-benar pergi dari tempat itu.”

***

Dua minggu kemudian, di ruang operasi yang terlalu terang, Sari menggenggam tangan Mulyadi untuk terakhir kalinya sebelum ia pergi.

Suaminya tidak berkata apapun. Tidak bisa. Ia hanya mengangguk berkali-kali seperti orang yang mengangguk bisa menggantikan semua kalimat yang tidak sanggup keluar.

Sari yang berbicara.

“Jaga dia,” katanya, hanya itu. Dua kata yang menampung segalanya.

Di dalam ruang operasi, di antara lampu dan dingin dan suara alat-alat yang tidak punya perasaan, Sari menutup matanya dan untuk terakhir kalinya berbicara ke dalam — ke tempat yang hangat itu, ke yang sudah tujuh bulan menjadi alasan ia terbangun setiap pagi.

“Kamu sudah siap?”

Tidak ada jawaban dalam bahasa yang selama ini mereka gunakan.

Tapi ada gerakan. Satu kali. Pelan.

***

Tangis itu datang pukul sebelas lewat tujuh menit.

Mulyadi mendengarnya dari luar, keras, marah, penuh dengan kehidupan yang menolak diam. Ia duduk di kursi koridor dengan wajah yang sudah kehabisan ekspresi, dan ketika suster itu keluar dengan bungkusan kecil di tangannya, kakinya tidak sanggup langsung berdiri.

Bayi itu diletakkan di pelukannya.

Wajah merah. Mata terpejam. Kepalan tangan sekecil kenangan.

Mulyadi menatapnya lama — lama sekali, dengan cara seorang laki-laki yang sedang belajar bahwa cinta dan kehilangan bisa datang di detik yang persis sama, di ruang yang persis sama, dalam wujud yang persis sama.

“Namamu langit,” bisiknya akhirnya. Suaranya patah di tengah tapi kalimatnya selesai. “Karena ibumu bilang ia ingin kamu punya nama yang tidak punya batas. Terus bertumbuh ke atas bagaimanapun keadaannya, entah itu subur, gersang, tetaplah bertumbuh.”

Bayi itu — Langit menggerakkan bibirnya.

Tidak menangis. Tidak tidur.

Hanya bergerak, seperti sedang mencari sesuatu di wajah lelaki yang menggenggamnya, seperti sedang mengenali getaran yang familiar di balik suara yang belum pernah ia dengar sebelumnya.

***

Dan di suatu tempat yang tidak bisa ditunjuk di peta manapun, di antara yang pergi dan tinggal, di celah tipis antara dua dunia yang tidak pernah benar-benar terpisah, sesuatu yang hangat tersenyum.

Bukan dengan wajah.

Tapi dengan cara yang hanya dimengerti oleh mereka yang pernah tinggal di dalam dada seseorang dan tahu, dengan seluruh keyakinan yang ada, bahwa beberapa jenis cinta tidak butuh tubuh untuk tetap berada.

 

Author

  • Penulis adalah Mahasiswa Indonesia di Mesir yang aktif di dunia media dan pengembangan digital. Pernah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Wawasan Mesir periode 2023-2024. Bagi penulis, media bukan sekadar tempat menyampaikan informasi, tapi juga ruang untuk menjaga integritas, menyuarakan fakta, dan tidak ikut arus ketika realitas perlu diluruskan.

    Akmal Sulaeman

    Lihat semua pos
  • Mahasiswa jurusan Syariah Islamiyyah di Universitas Al-Azhar, Mesir. Aktif jadi pasukan biru navy di Wawasan sejak 2024-2026, sekaligus sebagai pemimpin redaksi 2025-2026. Ahlan berteman di Instagram alwiagung_

    Lihat semua pos

Artikel Terkait