Penulis: Muhammad Ichsan Semma | Editor: Muh. Alwi Agung
Ruangan itu tidak besar, hanya berukuran sekitar tiga kali empat. Pencahayaannya minim, cuma diampu oleh sebuah lampu tua dengan cahaya kekuningan. Sesekali ia berkedip, seakan memberi tanda bahwa umurnya yang sudah tak lama lagi.
Setidaknya hanya itu yang pertama kali bisa ku identifikasi saat baru membuka mata. Diiringi rasa sakit di belakang kepala sebagai sambutan, aku menoleh ke kanan dan kiri, mencoba mengamati seluruh isi ruangan tempat aku terduduk dengan kedua kaki dan tangan terikat erat di kursi.
Sekarang, sudah sekitar sepuluh menit lebih aku di ruangan ini, dengan rasa pening di kepala yang mulai berkurang, penglihatanku terasa mulai lebih jelas, bisa kudapati sebuah lemari kecil bersampingan dengan cermin besar yang disandarkan di tembok, menghadap langsung ke arahku. Menampilkan langsung bayangan diriku yang botak dan telanjang, hanya menggunakan celana dalam.
Di sudut ruangan bisa kulihat tumpukan pakaian yang terdiri dari baju kaos putih, sarung, dan sandal yang seharusnya masih melekat di badanku saat jalan pulang dari salat Isya tadi, sebelum tiga orang berpakaian loreng dengan badan besar dan kokoh seperti tembok cina menghadangku di tengah jalan, memukul kepalaku dengan popor senjata yang mereka tenteng, tanpa aba-aba, tanpa tanya-tanya, seketika semuanya menjadi gelap.
Aku mulai mengingat-ingat lagi, tiga orang itu, dari pakaiannya, pastilah tentara Indonesia yang ditugaskan untuk menjaga kawasan sekitar. Semenjak kompromi KGSS ditolak dan pemberontakan DI/TII dideklarasikan oleh Kahar Muzakkar di Sulawesi beberapa waktu lalu, memang banyak sudah tentara yang dikirim ke Sulawesi, katanya untuk menjaga keamanan dan stabilitas kawasan timur Indonesia.
Awalnya hanya ku baca di berita atau ku dengar di radio, sampai beberapa bulan lalu pria-pria berpakaian loreng terlihat berkeliling di kampung, mengetuk pintu rumah-rumah warga. Menanyakan beberapa hal mulai dari yang biasa-biasa saja seperti, “Bagaimana kondisi kampung belakangan ini?”, “Apakah pasar dan toko mengalami gangguan dari para Gorila?” Sampai yang sifatnya menyelidiki seperti “Bagaimana menurut anda pergerakan pemberontakan Islam yang di lakukan oleh Kahar Muzakkar?” atau “Bagaimana menurut Anda tentang pembentukan negara Khalifah.”
Kami warga lokal yang kerjanya sehari-hari hanya berkebun dan menanam padi tentunya bingung dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, kebanyakan hanya menjawab tidak tahu dan tidak terlalu mengikuti. Jawaban yang sama juga diberikan oleh ibu dan bapak kemarin saat tentara mendatangi rumah kami.
Mulai dari hari itu, beberapa orang tua kampung yang sering salat ke masjid satu per satu menghilang. Daeng Nappa misalnya, ia yang merupakan muazin masjid kampung selama bertahun-tahun tiba-tiba tak pernah muncul batang hidungnya lagi. Sejak sebulan lalu, bahkan istri dan anak perempuannya yang biasa menjual ikan di pasar tak pernah terlihat. Ada juga Daeng Nai, marbot yang tinggal bermalam masjid kampung, yang setelah Daeng Nappa menghilang sempat kudengar keluhannya tentang harus menggantikan tugas Daeng Nappa menjadi muazin.
“Tidak enak didengar suaraku, suara serak-serak orang tua, itu juga Karaeng Ajimu tidak mau mengerti,” ucapnya suatu malam saat kami berdua berbincang santai selepas salat Isya.
Aku ingat sekali, subuh setelah malam kami berbincang itu, tak ada terdengar azan. Aku yang bangun agak telat dan buru-buru berangkat ke masjid tidak mendapati siapapun di sana. Saat itu, kupikir Daeng Nai benar-benar ngambek karena terus disuruh azan oleh Karaeng Aji. Akhirnya subuh itu, aku yang mengambil alih tugas muazin, kemudian menunggu beberapa saat sebelum akhirnya Karaeng Aji dan beberapa ibu-ibu dan bapak-bapak kampung datang untuk melaksanakan salat.
Mulai dari hari itu juga, bapak sudah mewanti-wanti untuk salat di rumah saja. Jikalau pun ingin salat di masjid kampung, jangan pakai pakaian yang terlalu islami, sarung dan baju kaos saja sudah cukup, yang penting menutup aurat.
“Nanti dikirako Gorila,” ucap bapak tegas.
Sejak menghilangnya orang-orang itu, berbagai pertanyaan dan asumsi muncul di kampung, beredar dari mulut ke mulut. Ada yang bilang mereka ditahan tentara karena dicurigai sebagai Gorila, sebutan untuk para simpatisan pemberontak DI/TII cabang Sulawesi, ada juga yang bilang mereka sempat lari ke Makassar sebelum dibekuk oleh para tentara.
Namun Karaeng Aji sendiri, sebagai yang bisa dibilang kawan dari kedua orang itu hanya mengibaskan tangan ketika ditanyai.
“Ah, tidak ada yang pasti itu, meskipun aku juga tak tahu di mana mereka, tapi daripada bikin tebak-tebakan tidak pasti, mending kita doakan mereka supaya selalu dilindungi sama Karaeng alla taala,” ucapnya.
Setiap ditanya, baik oleh warga kampung ataupun kami anak-anak remaja masjid, jawaban Karaeng Aji selalu sama. Warga yang mendapat jawaban seperti itu biasanya hanya menjawab dengan hmmm pelan, menunduk lalu pergi, beberapa yang keras kepala dan terus bertanya seringkali mendapat penegasan dari Karaeng Aji.
“Eh, Kau itu! Tidak baek kita menebak-nebak yang tidak baek sama saudarata’, kalau kau misalnya di posisinya Daeng Nappa, atau i Nai, pasti kau juga maunya didoakan saja daripada diterka-terka sembarang.”
Pada kami sendiri, anak-anak remaja masjid, ia biasanya menjadi lebih lembut. “Doakan saja, Nak,” ucapnya sambil menyuruh kami mengeja ulang kitab gundul yang ia ajarkan pada kami cara bacanya.
Karaeng Aji memang bisa dibilang merupakan Kyai kampung kami. Pemahamannya tentang agama, kemampuannya membaca dan memahami kitab gundul, serta kepeduliannya terhadap anak-anak muda yang ingin belajar agama, membuat warga kampung baik secara langsung ataupun tidak, senantiasa menghormatinya.
Ditambah lagi, statusnya sebagai seorang lulusan Arab Saudi yang belajar langsung ilmu agama dari Imam-Imam besar di sana membuat semua perkataannya terkesan begitu sakral di mata kami, para warga kampung.
Kepada dia, para orang tua mengirimkan anak-anak mereka untuk belajar agama, sebuah permintaan yang langsung diterima oleh Karaeng Aji dengan tangan terbuka. Membuka kelas kitab gundul untuk para remaja kampung dan membaca Al-Qur’an untuk anak-anak kecil. Beberapa orang tua, termasuk Bapak seakan-akan serentak punya mimpi menjadikan anak mereka seperti Karaeng Aji, menjadikan kami ahli agama, yang menuntut ilmu sampai Tanah Haram.
Semua itu sebelum masalah DI/TII ini meledak di Sulawesi. Kahar Muzakkar, seorang mantan Letnan Kolonel asal Luwu, bergabung dengan pasukan Kartosuwirjo, memelopori terbentuknya DI/TII cabang Sulawesi dan melancarkan pemberontakan di Tanah Timur. Kabarnya, mereka ingin menjadikan Indonesia sebagai negara berbasis kekhalifaan alih-alih republik. Semua itu diniatkan demi mencapai hakikat Islam itu sendiri, menjadi negara yang diridai Allah dan Rasul-Nya.
Dari yang kudengar, mereka menjarah pasar dan toko-toko, menyabotase warga, kampung, dan kota-kota, dalam rangka menuntut agar gagasan yang mereka bawa diterima oleh Presiden. Akibatnya, banyak korban berjatuhan, kelaparan dikabarkan melanda berbagai daerah. Keadaan ini pun, mengubah pandangan warga kampung kami terhadap Islam yang dari awalnya kebanggaan, menjadi ketakutan, khususnya pandangan terhadap Karaeng Aji.
Hal ini pun terlihat dari mulai menyusutnya jumlah anak-anak yang pergi untuk mengaji di masjid.
“Janganko ke sana, jadi terorisko nanti,” ucap para warga pada anak-anak mereka.
Ini pun diperparah oleh kedatangan para tentara, ketakutan warga desa menjelma jadi dua arah. Pertama takut anak mereka berpikir terlalu Islam, kedua takut mereka terlihat terlalu Islam sehingga dicurigai sebagai antek-antek Gorila. Banyak dari bapak-bapak kampung mulai takut untuk ikut salat berjamaah di masjid, bahkan saat salat jumat, masjid yang biasanya penuh kini tak terisi sampai setengah.
Di sisi lain, masih ada juga yang menyuruh untuk tetap pergi belajar agama di Karaeng Aji. Ada pula beberapa orang tua yang tetap istiqamah salat di masjid, tapi tak ada yang berani pakai baju koko, apalagi songkok, seringkali mereka hanya bersarung dan berbaju kaos. Contoh kasus seperti ini semakin banyak terlihat setelah hilangnya Daeng Nappa dan Daeng Nai.
Satu-satunya yang masih berani memakai baju koko dan gamis ke mana-mana di saat seperti ini hanyalah Karaeng Aji, entah ke pasar, ke warung, nuansa pakaiannya selalu sama. Tak hanya itu, ia juga berani memakai songkok dengan rapi, seakan menegaskan pendiriannya yang kokoh dan tetap tegak lurus di tengah miringnya isu tentang agama yang dianut olehnya sendiri.
Pernah sekali setelah pengajian ku sempatkan bertanya padanya perihal keberaniannya itu. Kutanya apakah tak takut ia dicurigai atau ditangkap oleh para tentara dan diinterogasi.
“Itu orang-orang memberontak orang-orang radikal, dia sakiti orang atas nama agama, sementara Nabi suruh kita untuk sebarkan kedamaian, tidak ada Nabi kita ajarkan kebencian. Ini yang kupakai, tanda damai, meskipun naliat jelle orang, tetapki tanda damai, kenapaka harus takut,” ucapnya sambil tertawa kecil sebelum melangkah pulang.
Ah, andai aku punya prinsip dan keberanian seperti Karaeng Aji. Mungkin kalau dia yang di sini, bisa ia tetap tenang dan tentram, bisa jadi dia jadikan keadaan tak bisa apa-apa ini untuk berzikir dan berdoa pada Karaeng Alla Taala. Berbeda denganku yang saat ini sudah mulai gemetar katakutan saat mendengar langkah sepatu yang berat dari balik pintu ruangan.
Pintu itu dibuka dengan kasar oleh seorang pria berbaju loreng, berdiri di sana, ia menatapku degan sorot mata tajam, gurat wajahnya tegas meski beberapa garis dagu tertutupi oleh lemak dan kerutan, perutnya sedikit tambun, tertutupi oleh gestur badan yang tegap dan bahu yang besar. Pria itu melangkah ke arahku, mendekat.
Aku dengan degup jantung yang mulai cepat mencoba untuk melakukan inisiasi terlebih dahulu, menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
“Pak, ini salah pa…,”
PLAKKK, sebuah kibasan tangan dengan cepat menghantam pipi kanan, membuat telingaku berdengung dan wajahk terasa kebas, aku terdiam bahkan sebelum menyelesaikan kalimat.
“Kau belum disuruh bicara jangan bicara dulu, sopan sikit,” ucap si tentara dengan logat yang kuterka-terka dengan telinga satunya yang masih bisa mendengar normal, seperti dari Sumatra.
PLAKKK, tamparan kedua segera menyusul, menghantam wajah bagian kiri.
“Gorila, Kau?” tanyanya, kali ini dengan suara sedikit diangkat.
Napasku memburu, menahan rasa sakit dan emosi yang membuncah memenuhi dada. Menatap lelaki di hadapanku yang kini tengah berbalik, membuka laci lemari kecil di samping cermin, mengeluarkan sebuah besi yang berbentuk empat lingkaran serangkai kemudian memasangnya di tangan kanan.
“Kau jawab jujur, kalau tidak jujur, ini kau dapat,” ucapnya sambil mengangkat kepalan tangan yang sudah dihiasi oleh besi tadi.
Dengan kedua pipi yang kebas dan seakan terasa gatal saat aku menggerakkan mulut, kucoba menjawab.
“Bukan, Pak. Ini kesalahpa…”
BUKK, besi itu menghantam tepat di sisi kiri wajahku, mengenai pelipis, menciptakan rasa pening yang tak karuan, memaksa badanku tersungkur sedikit ke kanan.
“Kau, sudah kubilang kalau bohong, kau dapat ini,” ucapnya lagi.
“Kutanya sekali lagi, Gorila, Kau?”
“Bukan, Pak. Ini…” Kali ini ia tidak menunggu kalimatku sampai ujung, sebuah hantaman kembali menerjang pelipis kiriku.
BUKK, kepalaku kembali tersungkur, kali ini dengan rasa asin darah yang bisa kukecap di bibir bagian kanan.
“Kalau bukan gorila, kenapa kau bolak-balik rumah Karaeng Aji tadi pagi? Barang apa kau bawakan dia?
Pertanyaannya itu mengingatkanku pada kejadian tadi pagi. Di tengah rasa pening dan mata kanan yang sudah mulai rabun karena bengkak hasil bogem tinju besinya, aku mulai mencoba kembali ke peristiwa pagi ini, saat ibu membungkus beberapa lauk dan sebakul nasi saat sarapan, dan bapak menyuruhku untuk mengantarkannya ke rumah Karaeng Aji.
Suruhan Bapak itu didasari oleh rasa khawatir, sebab sudah dua hari ini memang Karaeng Aji tidak hadir menjadi imam salat di masjid, hal itu juga menyebabkan pengajian kitab gundul dan pelajaran mengaji berhenti.
“Kau, muridnya, Kan? Sering, Kau, kulihat ikut pengajiannya?” ucap lelaki itu, bogem besinya kali ini menghantam perut. Membuat lambungku seakan didorong sampai ke tenggorokan.
“Hoeekk,” pukulan tadi membuatku memuntahkan sedikit isi perut. Mengenai lengan seragam si lelaki.
“Kurang ajar, kotor bajuku, Sialan!” Ia berujar marah, sambil kali ini melayangkan kakinya lurus kembali ke arah perut, membuatku terjengkang ke belakang bersama kursi, kepalaku membentur lantai, menyebabkan rasa sakit yang membuat otakku seperti diremas-remas langsung oleh tangan.
Lelaki itu kemudian berjongkok, memberdirikanku kembali bersama kursi yang aku terikat padanya.dapat kulihat tubuh telanjangku di cermin, wajah dan sekujur badanku sudah penuh ruam ungu dan bengkak-bengkak. Ada sedikit darah yang mengalir dari bibir.
Selepas memberdirikanku, lelaki itu kembali ke lemari kecil melepas rangkai besi di tangannya, kemudian mengambil sebuah alat berupa sebuah tongkat dengan kabel tersambung padanya. Setelah mencolok kabel tersebut, ia melangkah kembali ke arahku.
“Kutanya sekali lagi, kalau kau bohong, kau dapat ini,” ucapnya kembali sembari mengangkat tongkat itu ke wajahku. Aku sendiri sebenarnya sudah tidak bisa melihat jelas, di titik ini, bahkan berkedip bisa merangsang semua rasa sakit di sekujur muka.
“Kau apanya Karaeng Aji? Bawa apa kau tadi pagi ke rumahnya?”
“Hanya makanan, Pak. Disuruh sama orang tua saya,” jawabku lemas dengan sedikit nada memohon.
Tampak tak puas dengan jawabanku, ia tempelkan tongkat itu di dadaku, seketika sebuah aliran Listrik menyebar, menyetrum sekujur tubuhku hingga kejang-kejang, aku berteriak akibat rasa sakit yang tak tertahankan. Setiap senti dagingku serasa dicabik-cabik dan terbakar. Aku menatap pria itu, memohon padanya agar berhenti.
“Sudah kubilang, kalau kau bohong, kau dapat ini,’ ucapnya santai sambil mengangkat tongkat laknat itu, lalu kembali menempelkannya di tempat yang sama. Bersamaan dengan itu rasa terbakar kembali menggerayangi tubuh, bukan hanya bagian luar, aku bisa merasakan organ dalam seperti lambung dan ususku ikut bergetar oleh aliran listrik.
“Pak. Tolong, Pak, tidak bohong saya, Pak!” Kali ini aku memohon sambil menangis, terisak sebab tak kuat lagi menahan rasa sakit. Sekujur tubuhku sudah dibanjiri keringat, dan bisa kurasakan pula, selangkanganku yang juga sudah basah oleh sesuatu yang lain.
“Lah tekencing, Kau!?” ujarnya saat menyadari bahwa aku sudah mengompoli diriku sendiri. Kali ini dengan nada sedikit mengejek, sambil bersiap untuk menempelkan tongkat itu untuk ketiga kalinya.
“Bagaimana kondisi di sini?” Sebuah suara berat menghentikannya, yang ternyata berasal dari ambang pintu. Pemilik suara itu adalah seorang lelaki berpakaian loreng lainnya, lebih tinggi dan tegap daripada pria yang ada di depanku.
“Lapor komandan, belum mengaku dia,” ucap pria di hadapanku sambil memberikan gestur hormat.
Lelaki di ambang pintu itu mengamatiku lamat-lamat, sebelum akhirnya melontarkan pertanyaan yang sama.
“Apa hubunganmu dengan Karaeng Aji?” tanyanya tegas.
“Tolong, Pak, tidak ada, Pak. Dia hanya guru baca kitab gundul saya di masjid, Pak. Tadi pagi saya cuman bawa makanan ke rumahnya, Pak. Disuruh orang tua saya.”
Mendengar jawabanku, ia terdiam sejenak, kembali mengamatiku yang terengah-engah di atas kursi, mencoba mengatur kembali napas yang sudah nyaris hilang.
“Lepaskan saja, tapi nanti beri peringatan,” Akhirnya ia berucap, lalu beranjak keluar ruangan. Meninggalkan aku dan pria satunya yag sepertinya kesal tapi mau tak mau harus menurut.
***
Dengan kepala dibungkus kaos bau apek, aku dibawa dengan mobil. Kata para tentara itu, mobil tersebut akan membawaku dari tempat persembunyian tadi menuju rumah. Selama perjalanan, aku, masih dengan pakaian yang tadi kupakai selepas salat dengan Isya yang kini basah oleh banjir keringat dan berbau pesing, duduk di kursi belakang, disampingi oleh seorang tentara yang menyuruhku menjaga jarak darinya karena merasa jijik dengan bau pesing yang kubawa.
Setelah beberapa menit berlalu, mobil tersebut akhirnya berhenti, kaos apek yang dililitkan di kepalaku dilepas, memungkinkanku untuk melihat bahwa kini mobil itu sudah berada di depan pekarangan rumahku.
“Turun, Kau!” ucapnya.
Tanpa menjawab, aku segera beranjak untuk membuka pintu, saat akhirnya bunyi ceklek pintu mobil terdengar, tangan tentara itu mendarat di bahuku, sedikit mencengkeram.
“Awas kau cerita macam-macam ke orang, kami tahu kau, kami tahu rumah dan orang tuamu, kalau ada kudengar kau cerita, besok-besoknya bukan Cuma kau yang bakal kena!” ucapnya berbisik dengan nada intimidasi yang terasa begitu nyata.
Mobil itu akhirnya pergi saat aku sudah memasuki daerah pekarangan rumah. berjalan ke pintu, dapat kurasakan setiap tapak kakiku ke tanah membawa rasa sakit di sekujur tubuh, membuat perjalanan dari pekarangan menuju pintu rumah terasa lebih lama dari yang semestinya.
Sesampai di depan pintu, kucoba untuk mengetuk, Bapak dan Ibu bisa jadi mengiraku mampir bermain kartu di pos ronda tengah kampung, harus kuketuk dan mengucap salam dengan lebih keras lagi daripada biasanya. Dengan suara serak yang dipaksa keluar, kuucapkan salam.
“Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam, masukki, Nak, tidak dikunciji”
Deg, mendengar suara yang menjawab dari pintu membuat jantungku berhenti selama sepersekian detik. Itu bukan suara ibu ataupun bapak, melainkan suara Karaeng Aji.
Kubuka pintu tersebut dengan cepat, di hadapanku kini, duduk di ruang tamu, Daeng Nappa, Daeng Nai, dan Karaeng Aji duduk menyambutku dengan senyum hangat. Panik, langsung ku cecar mereka dengan pertanyaan.
“Karaeng, mana bapakku? Mana mamaku?” tanyaku dengan napas memburu, yang membuat ketiganya tertawa kecil.
“Karaeng, mana bapakku? Mana mamaku?” tanyaku lagi, kali ini lebih tegas.
“Dudukko dulu, Nak. Adaji bapak sama mamakmu,” Karaeng Aji menjawab dengan lembut. Aku duduk sesuai yang ia bilang, masih dengan perasaan tak karuan.
“Tentara tadi itu?” Daeng Nappa langsung memulai pertanyaan.
Melihatku ragu untuk menjawab, Daeng langsung menimpali.
“Jangan mko takut, amanji.”
Masih dengan sedikit keraguan, aku akhirnya menganggukkan kepala.
“Apa saja natanyakan? Apa saja ko cerita?” Daeng Nai melanjutkan dengan pertanyaan.
Aku menarik badanku lebih naik lagi ke sofa kursi, memberikan gestur penolakan untuk bercerita lebih lanjut.
“Eh jawab orang tuamu! Dia tanyako itu,” Daeng Nappa menimpali.
Melihatku yang masih duduk diam di sana dan menunduk, Karaeng Aji yang sedari tadi diam akhirnya ikut bersuara.
“Jawabmi saja, Nak. Ndak perluko takut sama itu tentara, karena sekarang yang harus nu takutkan justru nasibnya bapak sama mamakmu?”
Deg, mendengar ucapan Karaeng Aji tersebut, mataku kini menatap tajam ke arahnya. Ia kembali tertawa kecil sebelum melanjutkan.
“Jadi jawabmi, tenangmko, adaji orang tuamu sama kami, tapi harusko cerita jujur, kalau bohong, bisa jadi ndak ketemu mko mereka besok,” ucap Karaeng Aji sembari membungkuk, mencondongkan badannya ke arahku, menatap dengan sorot mata tegas, seperti memberi peringatan.
Aku tertegun, orang tua yang biasanya berkata dan berlaku syahdu ini benar-benar beda dari biasanya. Melihatku mulai merasa tertekan, Karaeng Aji mengembalikan posisi duduknya seperti awal, bersandar di bantalan sofa sebelum kembali bertanya, “Jadi, apa saja sudah ko cerita ke tentara tentang kami?”






