Puisisastra

Ruang Tak Menaruh Budi dan Puisi Lainnya

Penulis: AdminKKSMesir

Ruang Tak Menaruh Budi

 

Dengan santun kau datang padaku,

layaknya seorang budak yang tak punya malu

 

Sedikit demi sedikit kau ngemis hatiku,

hingga tak kuasa robahlah pertahananku

 

Mana kutau busuknya rayuan, mana kutau

peliknya ancaman

 

Terlena dalam khayalmu buatku acuh

pada cahaya yang selalu terjaga

 

oh, kasihanilah jiwa yang tak utuh ini,

terhempas kesana-kemari mencari

kepingan-kepingan yang sudah kau curi,

hingga terperangah di bawah bayang yang bertepi.

 

Wahai fajar yang tak lagi terkejar, jiwa ini

merindu untuk bersua.

 

Lavender yang Kaulukis

 

Kanvas berkisah kuas mengemas

Mengambil peran musim panas

Sejak itu ungu jadi Syahdu dan Merdu

yang menari di mata samarkan langit biru

 

Sebagaimana pandanganku yang terbatas

Maka melangkah maju ku merayu indahmu

Rasakan damai yang menghirup s’luruh wangi

Seakan memeluk hati tanpa dimintai

 

Kelopaknya tenang tak menuntut perhatian

Pancarkan setia di setiap kemekaran

dan tulus bagi yang memilih tuk berdiam

 

Dengan senang hati lantas kuceritakan

pada setiap kupu-kupu di jalan pulang

betapa kagum aku pada ungu Lavender

 

Senja Penuh Sesak

 

Termenung aku di senja Rabu

Antarkan langit ke ribaan malam

Alunan ombak, kicau burung, obrolan merdu

Tak kuasa menepis sepi yang bersemayam

 

Berkenankah waktu untuk kucabut jarum

yang berdetak tanpa henti dari jamnya

Jumpai angan yang sempat tertunda

lalu berpeluk aku pada sukmamu yg malang

 

Pergilah sebagaimana mestinya kita

Menahanmu di sini pun tak lebih leluasa

tuk biarkan sisa sinarmu menjelma di raga

 

Maaf, pada umur yang tak sempat kuburu

Pun pada tubuh kaku yang tak dapat kusentuh

Melihatmu membiru belajar ikhlas aku

 

Fatamorgana

 

Dengan santun kaudatang padaku lalu

menjelma seorang budak yang tak tahu malu

Sedikit demi sedikit kau ngemis hatiku

hingga tak kuasa runtuhlah pertahananku

 

Mana kutahu busuknya rayuanmu

Mana kutahu rapuhnya pertahananku

Terlena dalam khayal buatku lupa

pada cahaya yang dulu selalu terjaga

 

Oh, kasihanilah jiwa yang tak utuh ini

Terempas kesana-kesini mencari

kepingan-kepingan yang sudah kaucuri

hingga terperangah dalam bayang tak bertepi

 

Bintang fajar tak pernah lagi terkejar

Pun doa tak pernah lagi terbilang lima

 

 

Algoritma pada Jendela Waktu

 

Aksara prasasti samar tak kunjung bersaksi

Selalu saja berseteru dan menjadi

percikan rasa yang tak berkasih sama s’kali

Padahal kukira akan terpatri

 

Kucoba bersihkan ruang berpenuh angan

Tak sengaja secarik kertas tarik lirikan

Maka kusimak perlahan tiap barisnya

Berharap rasa akan tetap di sana

 

Terus rapikan tiap sekat yang berantakan

Namun tetap saja tak kutemukan jawaban

atas ‘aku’ yang sudah lama tak bertuan

 

Ingin bersua aku kepada ‘aku’, Tuan

yang kausimpan rapat tanpa ulur tangan

ke laut putus asa yang t’lah jauh kaubuang

 

 

Berburu Makna

 

Persis seperti lomba lari

Kucoba atur ritme sedemikian rapi

Kapan aku harus kencang berlari

Kapan juga harus sejenak menepi

 

Namun, saat berada pada kata hampir

Hati bernyanyi berpuas diri

Mencoba beri makna pada yang berarti

Dan kata orang itu haus validasi

 

Dengan letih bertatih agar terlatih

Bersamakan asa yang selalu kuasah

Semoga selamat dari binasa

Yang abainya tak bisa buatku terbiasa

 

Lalu batu berbentur aku dan jatuh

Sadarkan diri yang berekspektasi tinggi

Artikel Terkait