Berita

Tanggapi Pertanyaan Delegasi Korsel, PLN Paparkan Strategi Pembangkit Berbasis Lingkungan

Penulis: Afifah Al Tafunnisa

Wawasan, Kairo—Direktur Manajemen Pembangkitan PLN, Rizal Calvary Marimbo, tegaskan bahwa pembangunan proyek pembangkit listrik PLN perlu memperhatikan aspek lingkungan dan keberlanjutan masyarakat di sekitar wilayah pembangkit.

Hal tersebut disampaikannya dalam menanggapi pertanyaan salah satu delegasi asal Korea Selatan mengenai konsep keberlanjutan yang diusung PLN khususnya terkait dampak aktivitas pertambangan dan pembangkit listrik terhadap masyarakat di kawasan Sulawesi, Sabtu (19/9/2026) di Al-Azhar Conference Center, Kairo.

Delegasi Korea Selatan, Hasrinando Saputra L, menyoroti kondisi masyarakat di sekitar kawasan pertambangan dan pembangkit listrik, termasuk persoalan ISPA yang dialami masyarakat di sekitar PLTA dan PLTU. Ia juga menyoroti keberlanjutan hidup masyarakat di sekitar PLTA di Kabina serta masyarakat pesisir Danau Poso yang sama-sama berprofesi sebagai nelayan.

Ia mempertanyakan bagaimana PLN memaknai keberlanjutan, apakah sebatas kontribusi terhadap pendapatan negara atau juga mencakup keberlanjutan hidup masyarakat di sekitar pembangkit.

“Kalau PLN mengusung keberlanjutan, maka apa sih keberlanjutan itu bagi PLN? Apakah itu sebagai pendapatan untuk negara atau keberlanjutan hidup orang-orang di sekitaran pembangkit listrik?” Tanyanya.

Hasrinando juga mendorong PLN untuk melibatkan peneliti yang berfokus pada masyarakat adat sebagai mitra dalam merancang pembangunan yang berkeadilan.

Menanggapi hal tersebut, Rizal mengatakan bahwa persoalan lingkungan dan masyarakat di wilayah industri juga menjadi perhatian, termasuk di daerah asalnya Sulawesi yang mengalami perkembangan industri cukup pesat.

Menurutnya, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di kawasan yang mengalami kerusakan lingkungan.

“Kalau saya pasang PLTS, yang awalnya sudah gundul ini nanti di bawahnya akan tumbuh lagi, biota-biota itu akan hidup lagi,” ungkapnya.

Rizal menambahkan, PLN telah menerapkan prinsip pembangunan berbasis lingkungan dalam proyek-proyeknya. PLN juga turut melibatkan tenaga ahli di bidang lingkungan untuk mengkaji dampak pembangunan sebelum suatu proyek dilaksanakan.

“Kami sudah menerapkan asas-asas pembangunan proyek berbasis pada lingkungan. Kami punya doktor-doktor bidang lingkungan yang akan mengkaji apakah sudah berpihak pada lingkungan atau tidak. Kalau tidak, kami juga tidak setujui,” jelasnya.

Di sisi lain, Rizal mengatakan bahwa setiap proyek PLN maupun independent power producer (IPP) juga diwajibkan memberikan Corporate Social Responsibility (CSR)di lingkungan sekitar proyek sebagai bagian dari tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan.

Rizal menilai antara PLTA dan lingkungan, justru keberadaan PLTA dapat menjadi salah satu pendorong dari berbagai pihak untuk menjaga kelestarian lingkungan dan ketersediaan air.

Ia mengungkapkan bahwa penurunan debit air tidak semata-mata disebabkan oleh keberadaan PLTA, tetapi juga berkaitan dengan penebangan hutan secara sembarangan di kawasan sekitar danau Poso.

“Kalau lingkungannya tidak kita jaga, debit air akan turun. Sebenarnya bukan PLTA yang menyebabkan turunnya debit air, tetapi penebangan hutan secara sembarangan,” ujarnya.

Menurut Rizal, keberadaan PLTA juga dapat mendukung upaya pelestarian lingkungan di sekitar sumber air melalui pembiayaan kegiatan penghijauan. Ia mencontohkan penanaman kembali kawasan yang mengalami kerusakan untuk memulihkan tutupan pohon sekaligus menjaga ketersediaan air.

“Dengan adanya PLTA itu, mereka bilang, ‘Pak, kami sudah kasih CSA. Kami mau tanam ini, tanam itu, supaya pohon-pohon di sana kembali rimbun dan menghasilkan air. Kalau tidak ada PLTA, siapa yang mau biayai? Tidak ada yang biayai,’” ungkapnya.

Rizal juga menjelaskan bahwa listrik telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat, termasuk dalam menunjang layanan kesehatan dan kebutuhan dasar lainnya.

“Sekarang mana yang hidup yang tidak butuh listrik? Orang mati aja masih butuh listrik, apalagi orang hidup. Di rumah sakit, oksigen masih bisa pakai karena apa? Karena ada listrik,” Ujar Rizal.

Menutup jawabannya, Rizal menilai listrik telah menjadi kebutuhan primer dalam kehidupan masyarakat selain makanan dan minuman.

Reporter: Afifah Al Tafunnisa

Editor: Muh. Awaluddin

  • Mahasiswi Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Bergabung dengan Wawasan sejak 2025 dan menjabat Pemimpin Redaksi 2026-2027. Kuy, temenan di Instagram @_afifahaltaff

    Lihat semua pos

Artikel Terkait