Penulis: Andi Amanah Salsabilah | Editor: Muh. Alwi Agung
Bagi sebagian besar orang, mungkin juga kita, menganggap bahwa dongeng adalah ruang aman masa kecil, di mana ceritanya selalu saja berakhir dengan kebahagiaan. Namun, bagaimana misalnya kalau kita mengubah perspektif itu dengan mengatakan bahwa dongeng bisa saja berbentuk luka kelam masa lalu.
Sebelum lebih jauh, pandangan mengenai dongeng sebagai hiburan eskapis ini sebenarnya telah lama didekonstruksi oleh psikoanalis Bruno Bettelheim. Dalam studi klasiknya mengenai psikologis yang terdapat pada dongeng, ia menegaskan bahwa narasi dongeng sebetulnya berfungsi sebagai medium psikis manusia untuk memproyeksikan kecemasan bawah sadar, ketakutan eksistensial, hingga trauma emosional manusia.
Dan sebetulnya, seiring perkembangan medium daripada dongeng itu sendiri, fungsi proyeksi psikologis ini tidak lagi terbatas pada lembar-lembar teks sastra klasik. Sebagaimana yang dikaji dalam teori adaptasi kontemporer oleh Linda Hutcheon, bahwa sebenarnya peralihan dongeng ke dalam media audio-visual modern adalah sebuah rekontekstualisasi radikal. Sebab, cara sinematik secara spesifik memiliki ruang yang lebih luas untuk mengeksternalisasi narasi trauma tersebut melalui manipulasi atmosfer dan penokohan yang kompleks.
Dan ketika fungsi terapeutik ini dibawa ke dalam medium modern, dongeng bisa saja bertransformasi menjadi alat kritik psikologis yang sangat radikal. Serial drama It’s Okay to Not Be Okay menjungkirbalikkan fungsi konvensional tersebut, melalui karya-karya dongeng kelam karakter utama Ko Moon-young, seorang penulis buku anak eksentrik yang menyimpan trauma masa lalu dalam drama tersebut.
Lewat pendekatan kritik psikologis inilah, dongeng di dalam drama ini tidak lagi diposisikan sebagai cerita pengantar tidur saja, karena ia mengalami pergeseran fungsi menjadi medium simbolik yang sangat tajam untuk merepresentasikan kondisi emosional manusia yang kompleks seperti depresi, krisis eksistensial, dan luka batin yang mendalam.
Manifestasi trauma yang dihadirkan di sini selaras dengan tiga gejala klinis terbesar dalam psikologi trauma, yaitu intrusion (hadirnya memori tiba-tiba), avoidance (upaya menghindari emosi tertentu), dan hyperarousal yang dalam bentuk ekstremnya beralih menjadi kelumpuhan emosi. Ketika tiga fase psikologis ini dilebur ke dalam struktur narasi dongeng, yang kalau saya sadari di series ini adalah sebuah kritik radikal yang membongkar bagaimana jiwa manusia runtuh di bawah tekanan represi emosional dan struktur sosial yang patologis.
Amnesia Emosional: Mengubur Memori yang Enggan Mati
Perjalanan trauma ini selalu dimulai dari fondasi yang paling mendasar: bagaimana manusia mengelola memori buruknya. Dalam dunia psikologi, kondisi ini sering kali bermanifestasi sebagai gejala intrusion, atau sebuah interupsi ingatan traumatis yang digambarkan secara alegoris dalam dongeng pertama serial ini, The Boy Who Fed on Nightmares. Melalui figur seorang anak yang didera mimpi buruk, dongeng ini memvisualisasikan keputusasaan korban trauma yang terjebak dalam lingkaran setan memorinya sendiri.
Keputusasaan tersebut mendorong munculnya respons psikologis berikutnya, yaitu avoidance atau represi ekstrem, yang disimbolkan melalui kesepakatan sang anak dengan penyihir untuk menghapus seluruh ingatan buruknya. Namun, di sinilah narasi tersebut melakukan dekonstruksi yang tajam terhadap konsep kesembuhan. Ketika anak itu tumbuh dewasa tanpa memori buruk tetapi tetap gagal menemukan kebahagiaan, dongeng ini sedang mengkritik kecenderungan manusia yang mengira bahwa melarikan diri dari rasa sakit adalah solusi.
Puncak pembalikan logika ini ditegaskan melalui jawaban sang penyihir, yang secara psikologis dapat dimaknai sebagai proses integration (integrasi trauma). Penyihir itu mengatakan bahwa penyesalan, rasa perih ditinggalkan, serta memori melukai dan dilukai adalah elemen-elemen yang membentuk otot emosional manusia. Melalui resolusi ini, dongeng Ko Moon-young menegaskan sebuah kebenaran psikologis yang fundamental: bahwa ketahanan jiwa (resilience) tidak lahir dari amnesia atau penghapusan masa lalu, melainkan dari keberanian untuk mendekap, merawat, dan tumbuh bersama memori buruk tersebut demi mencapai kebahagiaan yang otentik.
Kritik psikologis terhadap dongeng ini membongkar fobia laten masyarakat modern terhadap emosi negatif. Di era sekarang, ada kecenderungan kuat di mana individu memilih jalur amnesia emosional—sebuah pelarian instan seperti konsumsi alkohol berlebih, ketergantungan pada obat penenang, atau perilaku workaholism yang ekstrem demi mengalihkan pikiran dari trauma masa lalu.
Namun, kritik ini menggugat ilusi tersebut: memori yang ditekan secara paksa (repressed memory) tidak pernah benar-benar mati; ia hanya terdistorsi menjadi patologi yang lebih laten, seperti kecemasan mengambang (free-floating anxiety) atau serangan panik tanpa sebab lainnya. Seseorang tidak bisa mencapai kedewasaan psikologis jika ia menolak mengintegrasikan penderitaan ke dalam narasi dirinya sendiri. Kebahagiaan yang dicapai dengan menghapus ingatan buruk adalah kebahagiaan yang artifisial, sebab tanpa kontras dari rasa sakit, ego manusia kehilangan kapasitasnya untuk merayakan arti kenyamanan.
Tirani Kepura-puraan: Kekerasan Struktural di Balik Topeng Ceria
Ketika pelarian dari memori buruk menemui jalan buntu, mekanisme pertahanan diri manusia biasanya bergeser pada fase avoidance (penghindaran aktif), sebuah kondisi yang dibedah secara tragis dalam dongeng kedua, The Cheerful Dog (Anjing yang Ceria). Kisah ini mengilustrasikan seekor anjing yang pada siang hari tampil sebagai hewan paling menyenangkan di dunia, ia selalu mengibaskan ekornya dan menggonggong riang demi menyenangkan majikan dan warga desa. Namun, ketika malam tiba dan kegelapan menyembunyikannya dari pandangan publik, anjing itu akan merintih dan menangis sendirian di bawah pohon tempat lehernya ditambat oleh seutas tali yang kuat. Ketika suatu hari ia bertanya pada lubuk hatinya mengapa ia tidak menggunakan taringnya yang tajam untuk menggigit dan memutus tali tersebut agar bisa berlari bebas, jiwanya memberikan jawaban yang menyedihkan: “Karena sudah lama terikat, aku lupa caranya.”
Pernyataan sang anjing ini merupakan representasi dari konsep learned helplessness (ketidakberdayaan yang dipelajari) yang dihasilkan oleh kekerasan struktural. Kritik psikologis di sini harus berani menggugat lingkungan: mengapa anjing itu tidak memotong talinya? Di dunia nyata, “tali pengikat leher” itu termanifestasi dalam bentuk struktur kerja kapitalistik yang eksploitatif atau sistem keluarga patriarki yang manipulatif.
Itulah yang terjadi pada individu modern saat ini. Sistem sosial sengaja mengondisikan mereka untuk tidak berdaya melalui ancaman isolasi, tuntutan ekonomi, dan sanksi moral. Topeng keceriaan yang mereka pakai di siang hari (seperti estetika kesempurnaan di media sosial) adalah strategi bertahan hidup yang dipaksakan oleh mereka, yang Kepura-puraan ini adalah bentuk represi massal di mana masyarakat mengkriminalisasi kesedihan dan kelelahan, memaksanya berfungsi seperti mesin yang selalu positif, hingga di titik terjauhnya mereka mengalami burnout eksistensial dan kehilangan kuasa atas tubuh serta emosinya sendiri.
Kanibalisme Emosional: Patologi Hubungan Kodependen yang Melebur
Pembusukan psikologis terdalam terjadi ketika tirani kepura-puraan ini dibiarkan membusuk dalam lingkungan yang disfungsional. Dampaknya dipaparkan tanpa basa-basi melalui fase hyperarousal yang beralih menjadi kelumpuhan emosi total dalam dongeng ketiga, Zombie Kid (Anak Zombie). Dongeng ini menceritakan tentang seorang anak yang terlahir tanpa memiliki percikan emosi sedikit pun dan hanya dibekali insting tunggal, yaitu rasa lapar yang luar biasa. Demi melindunginya dari stigma warga desa, sang ibu mengurung anak tersebut di dalam ruang bawah tanah dan mengorbankan dirinya setiap malam untuk mencuri hewan ternak demi memberi makan anaknya. Ketika wabah kelaparan melanda desa hingga sumber makanan habis, sang ibu memotong kakinya sendiri untuk diberikan sebagai makanan bagi anaknya, kemudian tangannya, hingga akhirnya yang tersisa hanyalah dada dan kepalanya. Saat sang ibu menyerahkan sisa tubuh terakhirnya dalam pelukan kematian, anak zombie itu untuk pertama kalinya memeluk ibunya erat-erat dan berkata: “Ibu. Kau… hangat sekali.”
Kritik psikologis yang radikal terhadap dongeng mengerikan ini akan membongkar adanya enmeshment (peleburan batas diri) yang patologis dan bentuk terselubung dari Sindrom Munchausen by proxy (kondisi di mana pengasuh sengaja membiarkan anak sakit/cacat secara emosional demi mempertahankan peran pengasuhannya). Kritik ini menggugat figur sang ibu, yang mana pengorbanan ekstrem memotong tubuh bukanlah representasi cinta suci, melainkan sebuah tindakan pasif-agresif yang meracuni seorang anak. Sang ibu sengaja mengisolasi anaknya di ruang bawah tanah dan memangkas perkembangan emosionalnya agar sang anak selamanya bergantung pada dirinya. Dengan memuaskan kebutuhan fisik semata tanpa melatih regulasi emosi, sang ibu sedang menciptakan sebuah parasit emosional.
Di dunia nyata, pola ini merupakan kritik terhadap narasi ibu martir atau pasangan yang sengaja merusak kemandirian pasangannya atas nama cinta. Pengorbanan sepihak ini sengaja menanamkan utang budi dan rasa bersalah yang eksistensial (generational guilt-tripping) pada diri anak. Akibatnya, hubungan kodependen (codependent relationship) ini menjadi sebuah kanibalisme emosional; anak menjadi mati rasa dan baru menyadari kehangatan cinta justru ketika objek pengasuhnya telah hancur total atau mati akibat eksploitasi relasi yang tidak setara tersebut.
Cermin Retak Manusia Modern
Melalui penelusuran kritik yang linear dan tajam ini, kita dipaksa melihat bahwa dongeng-dongeng kelam yang ditulis oleh Ko Moon-young menjelma menjadi sebuah traktat psikologis yang memetakan bagaimana trauma bekerja secara struktural dalam realitas sosial kita: dimulai dari ingatan buruk yang memicu amnesia emosional, tirani kepura-puraan yang melumpuhkan agensi diri akibat tekanan eksternal, hingga berujung pada kanibalisme emosional dalam hubungan interpersonal yang kodependen.
Pada akhirnya, seluruh narasi dongeng ini bermuara pada satu cermin besar yang diletakkan tepat di hadapan kita sebagai pembaca, menyisakan sebuah pertanyaan reflektif yang sangat mengusik kenyamanan eksistensial kita: di manakah posisi kita saat ini dalam spektrum luka tersebut? Apakah kita sedang hidup sebagai anak yang terus-menerus menelan mimpi buruk masa lalu tanpa berani menghadapinya, sebagai anjing ceria yang lehernya terikat kekerasan struktural hingga lupa cara melepaskan diri, atau justru sebagai anak zombie yang mati rasa dan terus mengonsumsi pengorbanan orang-orang di sekitar kita demi memuaskan kekosongan jiwa kita sendiri? Boleh jadi, dongeng-dongeng kelam ini tidak pernah sedang menceritakan karakter fiksi di dalam sebuah drama, melainkan sedang menelanjangi dan menggugat realitas psikologis diri kita yang sebenarnya.






