Ruang Tak Menaruh Budi
Dengan santun kau datang padaku,
layaknya seorang budak yang tak punya malu
Sedikit demi sedikit kau ngemis hatiku,
hingga tak kuasa robahlah pertahananku
Mana kutau busuknya rayuan, mana kutau
peliknya ancaman
Terlena dalam khayalmu buatku acuh
pada cahaya yang selalu terjaga
oh, kasihanilah jiwa yang tak utuh ini,
terhempas kesana-kemari mencari
kepingan-kepingan yang sudah kau curi,
hingga terperangah di bawah bayang yang bertepi.
Wahai fajar yang tak lagi terkejar, jiwa ini
merindu untuk bersua.
Lavender yang Kaulukis
Kanvas berkisah kuas mengemas
Mengambil peran musim panas
Sejak itu ungu jadi Syahdu dan Merdu
yang menari di mata samarkan langit biru
Sebagaimana pandanganku yang terbatas
Maka melangkah maju ku merayu indahmu
Rasakan damai yang menghirup s’luruh wangi
Seakan memeluk hati tanpa dimintai
Kelopaknya tenang tak menuntut perhatian
Pancarkan setia di setiap kemekaran
dan tulus bagi yang memilih tuk berdiam
Dengan senang hati lantas kuceritakan
pada setiap kupu-kupu di jalan pulang
betapa kagum aku pada ungu Lavender
Senja Penuh Sesak
Termenung aku di senja Rabu
Antarkan langit ke ribaan malam
Alunan ombak, kicau burung, obrolan merdu
Tak kuasa menepis sepi yang bersemayam
Berkenankah waktu untuk kucabut jarum
yang berdetak tanpa henti dari jamnya
Jumpai angan yang sempat tertunda
lalu berpeluk aku pada sukmamu yg malang
Pergilah sebagaimana mestinya kita
Menahanmu di sini pun tak lebih leluasa
tuk biarkan sisa sinarmu menjelma di raga
Maaf, pada umur yang tak sempat kuburu
Pun pada tubuh kaku yang tak dapat kusentuh
Melihatmu membiru belajar ikhlas aku
Fatamorgana
Dengan santun kaudatang padaku lalu
menjelma seorang budak yang tak tahu malu
Sedikit demi sedikit kau ngemis hatiku
hingga tak kuasa runtuhlah pertahananku
Mana kutahu busuknya rayuanmu
Mana kutahu rapuhnya pertahananku
Terlena dalam khayal buatku lupa
pada cahaya yang dulu selalu terjaga
Oh, kasihanilah jiwa yang tak utuh ini
Terempas kesana-kesini mencari
kepingan-kepingan yang sudah kaucuri
hingga terperangah dalam bayang tak bertepi
Bintang fajar tak pernah lagi terkejar
Pun doa tak pernah lagi terbilang lima
Algoritma pada Jendela Waktu
Aksara prasasti samar tak kunjung bersaksi
Selalu saja berseteru dan menjadi
percikan rasa yang tak berkasih sama s’kali
Padahal kukira akan terpatri
Kucoba bersihkan ruang berpenuh angan
Tak sengaja secarik kertas tarik lirikan
Maka kusimak perlahan tiap barisnya
Berharap rasa akan tetap di sana
Terus rapikan tiap sekat yang berantakan
Namun tetap saja tak kutemukan jawaban
atas ‘aku’ yang sudah lama tak bertuan
Ingin bersua aku kepada ‘aku’, Tuan
yang kausimpan rapat tanpa ulur tangan
ke laut putus asa yang t’lah jauh kaubuang
Berburu Makna
Persis seperti lomba lari
Kucoba atur ritme sedemikian rapi
Kapan aku harus kencang berlari
Kapan juga harus sejenak menepi
Namun, saat berada pada kata hampir
Hati bernyanyi berpuas diri
Mencoba beri makna pada yang berarti
Dan kata orang itu haus validasi
Dengan letih bertatih agar terlatih
Bersamakan asa yang selalu kuasah
Semoga selamat dari binasa
Yang abainya tak bisa buatku terbiasa
Lalu batu berbentur aku dan jatuh
Sadarkan diri yang berekspektasi tinggi






