Cerpen

Bunuh Saja Anak Itu!

Penulis: Asdimansyah M.

“BUNUH SAJA ANAK ITU!”

Khara! Perintah itu tak henti-hentinya menggema di kepalaku. Bagaikan vonis hukuman mati yang dijatuhkan pengadilan Israel pada Adolf Eichmann atas pembantaian sistematis terhadap enam juta orang Yahudi dalam Perang Dunia II. Bedanya, perintah yang aku terima hari itu bukan untuk membalas kejahatan masa silam yang dilakukan seorang penjahat kelas kakap, melainkan untuk melenyapkan nyawa seorang anak perempuan polos yang tak memiliki dosa, atau bahkan sekadar memahami arti dosa itu sendiri.

“Benar, bunuh saja anak itu! Lagi pula ini adalah tanah leluhur kita. Sudah sepantasnya kita rebut kembali. Anak itu sudah tak punya tempat kembali, bunuh saja!”

La’azazel! Bayang-bayang mencekam itu datang lagi! Malam demi malam membawaku pada kilas balik peristiwa hari itu. Hari di mana aku mulai mempertanyakan, untuk apa sebenarnya aku mengarahkan senjata pada kepala seorang anak kecil yang bahkan tak mengerti kalau logam panas yang kurapatkan di pelipisnya itu akan mengirimnya pada kematian.

“Saya setuju, kita bunuh saja anak itu. Membiarkan salah satu dari mereka tetap hidup, hanya akan menyisakan musuh untuk anak cucu kita nantinya.”

“Me-membunuh anak ini?”

Ben zona! Ini sudah hari ke-146 sejak kejadian itu. Aku mengundurkan diri dari militer akibat seorang anak perempuan yang kulubangi kepalanya dengan Tavor X95 milikku. Namun, karena alasan tidak masuk akal seperti itu tidak mungkin akan diterima oleh para petinggi militer, makanya aku segera mencoba cara lain dengan melemparkan kakiku ke medan ranjau agar aku lumpuh dan tak berguna lagi di medan perang. Dengan begitu, aku resmi diberhentikan dari militer.

Akan tetapi, setiap hari setelah peristiwa itu terasa bagai siksaan yang perlahan tapi pasti menggerogoti ketenanganku pascamundur dari militer. Kenangan buruk itu selalu kembali, tajam, menyayat, dan segar seperti baru saja terjadi kemarin. Seorang anak perempuan bersimbah darah dengan lubang bekas peluru di pelipisnya selalu datang seolah berdiri di hadapanku dan bertanya, “Apa salah saya, Tuan? Kenapa Tuan membunuh saya?”

“Tanah ini harus benar-benar bersih. Jangan sisakan apa pun, tanah ini adalah tanah yang sudah dijanjikan Tuhan untuk bangsa kita.”

“Siap, Pak.”

“Siap, Pak.”

“Siap, Pak.”

“S-s-siap, Pak?”

“Yitzhak, apa yang membuatmu ragu!? Cepat eksekusi anak itu!”

“Si-siap, laksanakan, Pak.”

DOR!

***

Aroma tajam mesiu masih tercium di mana-mana saat seorang gadis kecil berusia tak lebih tujuh tahun terseok-seok keluar dari reruntuhan rumahnya yang baru saja diratakan oleh para tentara. Ia memekik kesakitan. Darah bercampur debu mengalir perlahan dari sisi kiri jidatnya dan menutupi hampir setengah wajahnya, membuat darah itu kehilangan warna merah mawarnya. Pergelangan kaki kirinya cedera, atau mungkin saja patah akibat tertimpa bongkahan beton, sehingga ia kesulitan untuk menopang tubuh kecilnya saat berjalan.

Hanya ia satu-satunya yang tersisa dari penghuni rumah itu. Dengan rambut kusut, wajah berantakan, dan tubuh lunglai berselimut debu, ia tertatih-tatih membawa tangisnya merayapi setiap sudut reruntuhan, mencari sesuatu yang bagaimanapun juga tak akan pernah ia dapati dalam keadaan seperti yang ia harapkan.

Ia tahu betul apa yang mesti ia cari di bawah bongkahan sana. Namun hanya Tuhan yang benar-benar tahu, apakah masih ada yang tersisa untuknya hari itu. Hanya ada dua kata yang terus-menerus ia teriakkan dalam erangannya, “Mama! Baba!” berharap teriakannya itu segera mendapat balasan.

Sesekali ia berhenti, menahan tangisnya, terisak-isak, membiarkan telinganya meraba-raba suara sekitar. Sedikit saja, walau rintihan atau gerakan kecil, ia hanya butuh petunjuk di mana kedua orang tuanya itu berada. Namun tak sedikit pun jawaban ia dapati, yang ada hanya deru bising drone penjajah yang mengerang di langit, mencari mangsa berikutnya untuk dihancurkan.

Sepertiga jam berlalu sejak ia keluar dari reruntuhan rumahnya, tangan mungilnya yang tadinya lembut itu tak sedikit pun berhenti mengorek-ngorek laiknya cakar ayam yang sedang mencari makan di antara puing-puing bangunan. Mungkin saja Mama masih bernafas di bawah sana. Mungkin saja Baba sedang butuh bantuan di bawah sana. Mungkin saja dua sumber kebahagiaanya itu masih bisa diselamatkan. Mungkin saja mereka masih bisa berkumpul dan tertawa bersama besok pagi. Mungkin saja masih ada harapan yang tersisa. Mungkin saja … Semoga saja …

Tidak jauh dari tempat itu, ia melihat gerombolan tentara berjalan mendekati rumahnya, ingin memastikan kalau serangan yang baru saja mereka lancarkan berhasil meratakan distrik itu tanpa sisa. Dan tentu saja, mereka adalah orang-orang yang sama yang baru saja meratakan rumah si gadis kecil. Namun di mata si gadis kecil agaknya tidak demikian. Ia melihat mereka bukan sebagai pembunuh, penjajah, ataupun orang jahat yang baru saja melenyapkan tempat tinggalnya. Di matanya yang polos dan belum pernah melihat sisi buruk dari dunia, mereka hanyalah manusia yang sama seperti dirinya, Baba, dan Mamanya.

Menyadari kedatangan orang-orang itu, gadis kecil itu segera bangkit dari tempatnya, berlari tertatih-tatih memohon pertolongan tanpa peduli pada luka di kaki kirinya. “Mama! Baba!” teriaknya lirih sambil mengarahkan telunjuknya ke arah rumah yang telah menjadi puing, berharap para tantara itu memberikan pertolongan.

Belum mendapat tanggapan, ia mencoba meraih tangan salah satu dari tentara itu.

***

Debu masih menari-nari di udara saat kami tiba di lokasi penyerangan: Deir Al-Balah, sebuah kota kecil yang terletak di bagian tengah Jalur Gaza, wilayah pesisir yang memerantarai Gaza City dan Khan Younis di selatan. Kota ini menjadi target penyerangan kami setelah sebelumnya berhasil meratakan zona buffer yang terletak sekitar 800 sampai 1.500 meter dari garis perbatasan Gaza-Israel.

Ini adalah operasi pertama yang aku ikuti setelah dipindahtugaskan dari divisi Pertahanan Wilayah ke bagian Navigasi dan Penguasaan Wilayah. Pemindahan besar-besaran dilakukan setelah meledaknya eskalasi konflik dengan salah satu kelompok militan Palestina. Banyak dari prajurit kami yang gugur, terluka, bahkan gila akibat trauma yang mereka dapatkan di medan perang. Militer butuh pasukan baru untuk daya gempur yang lebih besar.

Dari jarak yang tidak jauh, tiba-tiba seorang anak perempuan berusia sekitar enam atau tujuh tahun berlari tertatih-tatih ke arah kami dalam keadaan terisak. Suaranya pecah meneriakkan sesuatu yang samar-samar terdengar. Ia semakin mendekat, apa anak ini tidak takut dengan kami yang jelas-jelas bersenjata lengkap? Atau ia memang hanya tidak tahu kalau kami adalah orang-orang yang diutus untuk menghancurkan daerah ini.

Dari jarak yang cukup lekat, suaranya baru terdengar jelas. “Mama! Baba!” katanya sambil mengarahkan telunjuknya ke salah satu rumah yang telah kehilangan bentuknya.

Aku mengalihkan pandangan, melihat beberapa perajurit lama yang sudah lebih dulu dikirim ke medan perang. Mereka tampak biasa saja dan tidak memberi tanggapan. Dari ekspresi mereka yang tetap datar, hal seperti ini agaknya sudah biasa terjadi di medan perang. Dan memang, kami sudah diajari untuk tidak pernah memberi belas kasihan pada siapa pun. Hanya saja, aku tidak pernah terpikirkan kalau akan dihadapkan pada momen seperti ini. Lebih sialnya lagi, rambut emas dan kulit bening anak ini mengingatkanku pada Alesha, satu-satunya putriku yang sudah satu tahun tidak kutemui akibat perang. Mereka berdua sangat mirip, sulit untuk tidak membayangkan bagaimana nantinya kalau putriku berada di posisi anak ini.

Ia meraih jari kelingkingku dengan segenap tenaganya, menarikku ke arah tempat yang ia tunjuk tadi. Aku tidak terlalu paham yang ia katakan, bahasa kami berbeda, tapi dari isyaratnya aku sedikit paham kalau ia ingin aku membantunya mencari sesuatu di antara tumpukan puing-puing itu. Aku yang masih terbayang-bayang akan putriku, tak bisa berbuat apa selain menurutinya.

Samar-samar, terdengar suara rintihan dari arah yang tidak jauh dari tempat aku berdiri. Ya, benar saja, saat kupindahkan puing-puing beton itu, aku menemukan seorang wanita yang kemudian dipanggil Mama oleh anak ini. Menyadari apa yang aku temukan, tantara-tentara lainnya mendekat dan …

DOR!

Letnan Itamar, orang yang memimpin kami dalam operasi ini tanpa pikir panjang menembak kepala wanita itu. Sekejap ia mati akibat timah dingin yang menembus kepalanya. Anak yang baru saja menghapus sungai-sungai kecil di wajahnya, kembali histeris menyaksikan ibunya dibunuh langsung di depan matanya.

“Kerja bagus, Yitzhak, kau berhasil menemukannya. Lain kali, kalau dapat yang masih hidup, langsung bunuh saja. Tidak perlu menghemat peluru,” puji Letnan Itamar yang kemudian berjalan kembali ke arah mobilnya. Aku yang berpangkat rendah tak bisa menanggapi apa-apa selain berkata, “Siap, Pak.”

Aku kembali mengalihkan pandanganku ke arah anak itu. Ia menagis sambil memeluk ibunya yang masih terjepit di antara reruntuhan, dengan darah berwarna merah segar mengucur dari rongga kepalanya. Pikiranku semakin menjadi-jadi. Sekarang, aku malah membayangkan ibu dan anak perempuan yang ada di hadapanku ini adalah istri dan putriku. Membuat jantungku serasa dikerat, berdegup tidak stabil, napasku tiba-tiba menjadi berat. Kudengar percakapan para tantara yang ada di sekitarku.

“Mau kita apakan anak itu?”

“Bunuh saja anak itu!”

“Benar, bunuh saja anak itu! Lagi pula ini adalah tanah leluhur kita. Sudah sepantasnya kita rebut kembali. Anak itu sudah tak punya tempat kembali, bunuh saja!”

“Saya setuju, kita bunuh saja anak itu. Membiarkan salah satu dari mereka tetap hidup, hanya akan menyisakan musuh untuk anak cucu kita nantinya.”

Apa mereka serius ingin membunuh anak ini? Apa anak perempuan ini terlihat begitu menyeramkan sehingga orang-orang ini merasa terancam dan harus membunuhnya? Tatapan mereka serentak tertuju padaku seolah mengisyaratkan agar aku saja yang membunuh anak ini, karena memang aku yang sedang berada di sampingnya.

“Me-membunuh anak ini?” ucapku ragu.

Dari kejauahan, di dalam mobil Jeep, Letnan Itamar yang rupanya memperhatikan kami dari tadi berteriak, “Tanah ini harus benar-benar bersih. Jangan sisakan apa pun. Tanah ini adalah tanah yang sudah dijanjikan Tuhan untuk bangsa kita.”

“Siap, Pak.”

“Siap, Pak.”

“Siap, Pak.”

“S-s-siap, Pak?”

Sial, ternyata mereka benar-benar serius ingin membunuh anak ini.

“Yitzhak, apa yang membuatmu ragu!? Cepat eksekusi anak itu!” gertak Letnan Itamar.

“Si-siap, laksanakan, Pak.”

Perlahan, aku arahkan moncong senjataku ke pelipis si anak perempuan. Semakin rapat, sampai ujung logam panas itu bersentuhan dengan kulit kepalanya, untuk memastikan peluru tak meleset sedikit pun dari sasaran saat kutarik pelatuknya. Sebab, ada banyak keraguan yang seperti menahanku untuk membunuh anak ini.

Ia tak sedikit pun memberikan perlawanan ataupun berbalik menatapku. Anehnya, justru pemandangan inilah yang sangat menyiksaku. Dari samping, anak ini benar-benar tampak mirip dengan Alesha. Aku tak sanggup dengan tugas ini, maka kupejamkan mata, menelan liur dan perlahan kutarik pelatuk …

DOR!

Saat kubuka kembali mataku, simbahan darah sudah tersebar ke mana-mana, mewarnai moncong senjata, baju, tangan, dan wajahku. Si anak tadi tergeletak dengan bekas peluru yang menembus kepalanya. Sementara tangan kanannya menggenggam erat tangan si ibu yang bernasib sama dengannya. Kutarik napasku, membuangnya perlahan walau agak terputus-putus karena kejadian barusan benar-benar membuat jantungku berdebar begitu kencang.

Ketenangan tak pernah lagi datang padaku satu detik pun setelah peristiwa itu. Bahkan setelah aku membuat kakiku cacat permanen dengan melompat ke medan ranjau yang kami pasang sendiri. Bayang-bayang gadis kecil itu setiap malam mendatangiku dengan darah yang mengalir dari pelipisnya, mengairi seluruh tubuhnya. Andai aku bisa kembali pada hari itu, aku akan mengarahkan moncong senjataku ke kepalaku sendiri.

***

Anak itu datang lagi, tapi kali ini berbeda dengan yang lalu-lalu, ia datang dengan rupa Alesha, putriku. Tidak, ia memang Alesha. Eh, bukan, ia adalah anak itu. Tidak salah lagi, lihat saja darah yang mengucur dari kepalanya. Akhhvangstgblktolngmaafkanaku.

“Bisa tidak dalam satu hari saja kaubiarkan aku tenang bersama keluargaku!?”

“Mama? Baba?”

“Diam, tinggalkan aku sendiri!”

“Bunuh saja anak itu!”

“Siap, Pak.”

Dari arah dapur seorang perempuan datang dengan rongga peluru di jidatnya. Aku ingat, dia adalah ibu anak itu. “Hei, jalang, bukan aku yang membunuhmu! Pergi dari sini!”

“Bunuh saja anak itu!”

“Siap, Pak.”

Aku mengambil senjata yang sudah lama aku sembunyikan di bawah sofa ruang tamuku, mengarahkannya kepada dua orang itu. Mereka mencoba lari keluar rumah.

DOR!

DOR!

Aku berhasil mengenai mereka berdua. Aku berhasil membunuh mereka berdua: istri dan putriku.

DOR!

Aku berhasil membunuh diriku.

  • Mahasiswa fakultas Dirasat Islamiyah Universitas Al-Azhar Mesir. Pria berdarah biru navy yang aktif ber-Wawasan sejak 2023 sampai 2025, sekaligus menjabat Pemimpin Redaksi 2024–2025.

    Lihat semua pos

Artikel Terkait